Lepas jilbab dalam bahasan ini bermakna melepas jilbab dengan niat tidak menutup aurat yang seharusnya tidak diperlihatkan. Penekanannya bukan untuk menyalahkan pihak yang setuju atau yang tidak setuju terhadap orang yang melakukannya, semua tahu siapa, namun untuk mengambil hikmahnya. Tidak seru, sih, bagi orang-orang yang suka kisah kontroversi.

Melepas jilbab itu hak seseorang. Tidak ada paksaan dalam agama. Silahkan saja. Sudah dipersilahkan oleh Yang Mencipta Manusia. Namun, tidak berarti tindakan itu benar. Mau kafir? Dipersilahkan. Mau seenaknya sendiri? Dipersilahkan. Adapun nanti kalau ada akibat karena berada di jalan yang salah, mau tidak mau harus diterima.

Dalam surat Al Baqoroh, Allah Pemilik Segala sudah berfirman :
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Walau tidak bisa disebut kafir dalam artian keluar dari Islam, melepas jilbab juga termasuk “ingkar” atas perintah Tuhan. Oleh karena itu, perlu dicermati tentang tindakan-tindakan “pengingkaran” semacam itu agar tidak mengena pada diri.

Yang paling berbahaya adalah tindakan tersebut dilakukan setelah dahulunya melakukan hal yang sebaliknya. Bisa dikatakan, “ingkar” setelah “iman”. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah beriman kemudian kafir setelahnya bisa dipengaruhi atau disadarkan kembali? Selalu akan ada usaha pembenaran terhadap keputusannya, dan itu akan menjauhkan dari petunjuk dan kebenaran.

Dan sudah bisa ditebak, manusia yang butuh posisi dalam kehidupan sosialnya akan selalu mencari alasan pembenaran, atau akan dianggap orang plin-plan. Menjadi sangat berat bagi seseorang untuk menyatakan dirinya salah keputusan, apalagi bagi orang yang sudah memiliki kedudukan atau popularitas di masyarakat.

Maka benarlah Allah dengan segala firmannya:

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang lalim

Lepas jilbab adalah contoh kecil, dan itu bisa terjadi pada semua orang untuk hal-hal kecil lainnya. Jika tidak berhati-hati, bisa jadi akan terjerumus kesesatan sedikit demi sedikit. Semoga menjadi hikmah bagi semua.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

2 KOMENTAR

  1. Tidak ada paksaan dalam beragama, tidak berarti memberi seseorang hak untuk tdk beragama.

    Menjadi kafir itu bukan hak. Meninggalkan syariat itu bukan hak. Merusak diri sendiri juga bukan hak. Bahkan bunuh diri sendiri pun bukan hak.

    Kalau sesuatu sdh diwajibkan, otomatis menghilangkan adanya hak untuk tidak melaksanakan. Kalau perusahaan sdh mewajibkan datang bekerja jam 7 pagi, maka tdk ada hak karyawan untuk tdk datang jam tsb. Kalau seorang ayah sdh mengeluarkan larangan utk keluar malam bagi anak gadisnya, maka hilanglah hak anak tsb utk keluar malam.

    Allah berfirman, “tdk kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk melakukan PENGABDIAN kepadaku”.

    Allah berfirman, “katakanlah ya Muhammad, kepada muslimah, agar mereka (memanjangkan) menurup aurat mereka”.

    Allah berfirman, “sesungguhnya sholat, adalah kewajiban yg telah ditentukan waktu-waktunya”.

    Allah berfirman, “sujudlah kamu sekalian kepada Adam, maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis. Sesungguhnya iblis itu termasuk orang2 kafir (ingkar)”.

    Maka, tidak melaksanakan perintah, tdk melakukan kewajiban, adalah PENGINGKARAN, PEMBANGKANGAN, bukan hak. Menjadi kafir dan tdk menjalankan syariat adalah sebuah kejahatan, bukan hak. Karena itu, neraka disiapkan sebagai hukuman bagi para pembangkang.

    Cmiiw

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama