Sebenarnya, semua orang yang senang berbohong itu mudah terkena penyakit gila, bukan hanya yang suka main sosmed saja. Masalahnya, sosmed itu sendiri menciptakan keadaan tertentu sehingga orang sangat mudah melakukan kebohongan.

Buktinya, terdapat penelitian terhadap dua ribu orang Inggris pengguna Facebook dan Twitter, ditemukan hanya 18% yang jujur menunjukkan diri sesuai kehidupan nyata. Sisanya, kebanyakan berbohong.

Kebohongan dilakukan karena beberapa alasan, diantaranya ingin menarik perhatian, ingin terlihat lebih, atau bahkan ingin membuat iri orang lain. Kebohongan ini mudah dilakukan karena memang tidak sulit dilakukan, tanpa perlu bertatap muka, ditambah alat-alat digital yang mampu memanipulasi gambar atau citra.

Bagaimana dengan orang yang berbohong agar mendapatkan uang atau keuntungan? Adakah? Banyak. Bahkan banyak jalan mendapat uang dengan cara berbohong. Apalagi jika terkait politik, segala cara dikejar bahkan dengan membuat akun-akun palsu dan menyebarkan fitnah.

Begitu mudahnya kebohongan tersebar seharusnya membuat orang waspada untuk tidak mempercayai informasi melalui media sosial. Namun, ternyata sebaliknya. Menurut sebuah penelitian, ternyata 65% netizen mempercayai informasi di internet tanpa mengklarifikasinya.

Dari dua hal di atas, mudah berbohong dan mudah mempercayai kebohongan, semua yang diingat adalah sesuatu di luar fakta sesungguhnya. Padahal, kerja memori otak itu memperkuat yang diulang-ulang dan melemahkan yang tidak terulang-ulang. Apalagi bila ada pengalaman emosi yang menyertai, seperti marah, gembira atau sedih, akan mempercepat terekamnya informasi dalam memori.

Apa yang terjadi apabila memori sudah penuh merekam kebohongan dan melupakan fakta? Satu kata : tersesatlah ia. Teringat bunyi ayat di surat Al Baqoroh, “Mereka hendak menipu Allah dan orang yang beriman, namun mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya”, serta ayat lain yang menguatkan kesesatan mereka. Orang yang hidup dalam kebohongan akan memperkuat memori kebohongan dan berangsur-angsur meninggalkan dunia nyata.

Bahkan tak perlu beragama Islam untuk menyadari hal ini, hasil penelitian Psychonomics Bulletin and Review, sering berbohong di medsos akan merusak memori autobiografik. Artinya, kehilangan jati diri atau kepribadian. Dengan kata lain, gila.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama