Mardigu Wowik, seorang pengusaha Indonesia, mengajukan program bisnis koperasi ke publik yang ia sebut Alchemy. Apa yang diajukan di akun pribadinya, menjadi menarik dicermati, sebab mengupas berbagai kelemahan koperasi dan kelebihannya berdasar pengalaman puluhan tahun bisnis, kemudian mengemasnya menjadi platform yang sama sekali baru.

Salah satu kelemahan koperasi, menurutnya, sulit bergerak secara luwes seperti sebuah perusahaan. Aturan baku di koperasi adalah one man one voted, apa-apa harus persetujuan anggotanya, sehingga lamban dalam memutuskan sesuatu padahal dalam dunia bisnis mengutamakan kecepatan.

Sedangkan di sisi lain, kelebihan koperasi yang dibidik adalah kepemilikan bersama. Koperasi adalah badan usaha yang bisa dimiliki jutaan orang. Ada juga yang tidak berbentuk koperasi, yaitu perusaan terbuka (go public), namun syaratnya berat dan ketat.

Loading...

Sebagai terobosan, si Bossman Sontoloyo, gelar yang disematkan pada dirinya sendiri, mengemukakan bisnis koperasi “gaya baru”, yang ia sebut Alchemy. Disebut begitu mungkin karena menggabungkan kelebihan perusahaan terbatas dengan koperasi, atau mengawinkannya. Namun, untuk menjalankan koperasi model ini memerlukan syarat-syarat khusus, kalau tidak mau “stuck” seperti 30.000 koperasi lainnya.

Syarat pertama, koperasi dipandu dengan model “diktator”, anggota wajib taklid dengan tata aturan yang diberikan, paling tidak dua tahun pertama. Hal ini dilakukan untuk mengurangi terlalu banyak kelambanan hanya karena kebanyakan berdebat. Namun, “diktator” mestilah seorang yang benar-benar orang yang tepat, paling tidak track record di dunia usaha sudah terjamin.

Kedua, bentuk manajemen koperasi harus berorientasi “layanan publik”, dengan membangun kepercayaan secara terus menerus, sehingga membutuhkan konsistensi, niat dan pengorbanan. Pengurus harus digodog agar mendapatkan kepercayaan tertinggi dari para anggotanya. Mereka akan diukur kapabilitasnya, dibedah kekuatannya, dipertanyakan niatnya, dituntut layanannya hingga batas tertinggi, diuji kemampuan kolaborasinya, loyalitas terhadap profit akan selalu dipertanyakan, termasuk kesabaran melayani tiada henti.

Bukan hanya itu, pengurus dituntut untuk terbuka, mampu mendengar dan terus-terus-terus menghasilkan profit.

Ketiga, koperasi masih terus dikawal oleh orang yang benar-benar paham bisnis. Mardigu menyebutnya sebagai pembina. Jika ada “miss” dalam perjalanan bisnis koperasi, akan segera diluruskan dalam koridor yang ditentukan. Namun, koridor tersebut tidak sempit sehingga memberi keleluasan bergerak bagi pengurusnya.

Keempat, akuntabilitas pengelolaan koperasi harus ke tingkat tertinggi, selayaknya jaminan pasti bagi para anggotanya. Istilahnya, prudential accounting, yaitu manajemen yang akuntabel, bertanggungjawab dan terbuka.

Kelima, memiliki bench-mark dengan bentuk koridor bentuk bisnis sehingga semua pengurus dan anggota paham kemanakah bisnis koperasi bergerak. Mardigu mengambil Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan multinasional konglomerasi, holding company, yang berkantor pusat di kota kecil Omaha, Nebraska, sebagai role model bisnis koperasinya.

Berkshire Hartaway, semua banyak yang sudah tahu, itulah perusahaan “koperasi”nya Warren Buffet. Bukan koperasi betulan, tetapi perusahaan public yang dikelola oleh Mr Buffet. Dan ini yang akan ditirunya, karena proven method.

Apakah program tersebut akan berhasil? Siapa tahu. Tunggu saja aksi-aksinya.

Tulisan ini sepenuhnya tanggungjawab penulisnya.
SERUJI tidak memiliki tanggungjawab apapun atas hal-hal yang dapat ditimbulkan tulisan ini, namun setiap orang bisa membuat aduan yang akan ditindaklanjuti sebaik mungkin.
SERUJI berhak untuk membatalkan penayangan hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan.
Untuk pengaduan email ke redaksi@seruji.co.id.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama