SERUJI.CO.ID – Dalam beberapa hari terakhir, linimasa TikTok dan Instagram dipenuhi video dengan nada yang hampir seragam: lelah, jenuh, dan ingin berhenti sejenak dari ritme hidup yang terasa semakin cepat.
Fenomena ini tidak datang dari satu akun atau satu sosok tertentu. Ia muncul serempak. Video-video pendek memperlihatkan seseorang yang duduk diam di kamar dengan lampu redup, menatap layar laptop tanpa ekspresi, atau sekadar menuliskan kalimat singkat seperti “capek banget hidup kayak gini terus”.
Di video lain, terlihat perjalanan pulang malam dengan wajah kosong di kendaraan umum, ditemani teks sederhana yang justru terasa sangat jujur.
Konten-konten ini tidak berisik. Tidak dramatis. Bahkan sering kali minim dialog. Namun justru karena kesunyian itulah, ia terasa dekat.
Jika ditelusuri dari pola kemunculannya, tren ini mulai menguat dalam beberapa hari terakhir ketika sejumlah video dengan tema kelelahan kerja dan tekanan hidup muncul hampir bersamaan di beranda pengguna. Algoritma kemudian memperkuat pola tersebut. Video dengan emosi serupa terus didorong, muncul berulang, dan perlahan membentuk satu narasi besar yang tidak terorganisir, tetapi terasa kolektif.
Di titik tertentu, konten ini berhenti menjadi milik individu. Ia berubah menjadi pengalaman bersama.
Isi dari curhatan yang beredar sebenarnya tidak kompleks. Justru kesederhanaannya yang membuatnya kuat. Banyak yang berbicara tentang rasa lelah yang tidak terlihat dari luar. Tentang bangun pagi tanpa semangat, menjalani hari dengan tekanan yang sama, lalu kembali ke titik awal tanpa benar-benar merasa bergerak.

Tidak ada satu peristiwa besar yang menjadi penyebab. Yang muncul justru akumulasi. Tekanan kecil yang terus menumpuk, ekspektasi yang tidak pernah benar-benar selesai, dan perasaan tertinggal yang muncul setiap kali membuka media sosial.
Dalam banyak video, kata “burnout” mulai sering disebut. Istilah ini merujuk pada kelelahan mental dan emosional akibat tekanan berkepanjangan, sesuatu yang semakin sering dialami generasi muda di tengah ritme hidup modern.
Namun yang menarik, respons yang muncul dari tren ini tidak lagi mengarah pada dorongan untuk bekerja lebih keras. Sebaliknya, muncul kecenderungan untuk melambat.
Di sinilah istilah “soft life” mulai banyak digunakan.
“Soft life” dalam konteks ini bukan berarti hidup tanpa usaha, melainkan upaya untuk keluar dari tekanan yang dianggap berlebihan. Ia tercermin dalam hal-hal sederhana yang berulang di berbagai video: menikmati pagi tanpa terburu-buru, berjalan santai tanpa tujuan besar, atau sekadar memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi yang dihadapi Gen Z saat ini. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang terus bergerak, dengan standar keberhasilan yang seolah selalu meningkat. Setiap hari, mereka terpapar pencapaian orang lain, gaya hidup yang terlihat ideal, dan narasi sukses yang tidak selalu realistis.
Dalam situasi seperti ini, rasa lelah menjadi sesuatu yang wajar, meski sering tidak terlihat.
Berbagai laporan global, termasuk dari Deloitte, menunjukkan bahwa Gen Z memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Tekanan ini tidak hanya datang dari pekerjaan, tetapi juga dari lingkungan sosial digital yang terus membandingkan.
Media sosial, yang awalnya menjadi ruang hiburan, pada akhirnya juga menjadi sumber tekanan.
Kesimpulan
Curhatan burnout yang viral ini bukan sekadar tren sesaat yang akan hilang dalam beberapa hari.
Ia adalah refleksi dari kondisi yang nyata.
Di balik layar yang penuh hiburan, ada generasi yang sedang mencari cara untuk bertahan. Bukan dengan berlari lebih cepat, tetapi dengan memperlambat langkah.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, melambat bukan lagi dianggap kegagalan.
Melainkan pilihan.
