
Miripkah? Agak. Adilkah? Tidak. Tapi kalau dilihat, kompetisi olahraga itu tidak lebih adil daripada judi. Contoh : tak mungkin tim basket Indonesia menang melawan tim basket Eropa, karena tubuh alaminya berbeda. Jadi, olahraga jelas tidak adil.
Kalau judi? Untung-untungan, siapapun bisa menang tanpa harus badannya besar sekalipun. Mengapa judi dilarang agama walau terlihat adil? Judi dilarang karena syirik, menggantungkan nasib kepada selain Allah.
Bagaimana dengan kompetisi olahraga? Olahraga itu dasarnya baik, melatih badan agar tetap bugar dan prima dalam beraktifitas. Kompetisi itu juga bisa jadi baik bila digunakan untuk memacu diri. Kompetisi juga bisa digunakan ajang latihan sportifitas, yakni berani kalah dengan sikap ksatria.
Kompetisi menjadi buruk bila sudah digunakan sebagai cara membanggakan diri. Bangga diri terdapat unsur syirik juga, yaitu menganggap karena usahanya semata, padahal semua pujian hanya untuk Allah. Kompetisi juga menjadi buruk ketika membuat orang hanya ingin mengalahkan yang lain. Bukankah kompetisi hanya melahirkan sedikit pemenang dan banyak pecundang?
Kompetisi di bidang olahraga adalah permainan, bukan hidup nyata. Maka, selalu ada istilah “pemain”, “arena permainan”, “pertandingan”, dan lain-lain. Karena permainan, tentu membius orang untuk lalai beraktifitas nyata. Contoh : orang rela bergadang untuk menonton pertandingan sepakbola, bahkan bondo datang ke tempat pertandingan.
Karena terbius semangat dalam persaingan, terjadilah keinginan untuk saling mengalahkan, dan sering diaplikasikan di dunia nyata. Maka, tidak heran bila terjadi tawuran yang berujung kematian. Andai saja setiap orang bisa sadar bahwa semua itu hanya permainan, dan permainan hanya bermanfaat bila bisa mengambil hikmahnya, tentu tak akan terjadi peristiwa yang mengenaskan.
Sayang, sifat kompetisi itu sendiri mendorong orang untuk saling mengalahkan, dan tidak mungkin semua orang adalah manusia sempurna untuk bisa memahami filosofinya. Bukankah setiap ajang kompetisi banyak digunakan sebagai ajang judi?
Di jalanan akan terlihat buktinya. Orang yang sangat kompetitif dan selalu ingin mengalahkan, pasti berebut jalan dan tak mau mengalah, tak mau mengantri, sulit bekerja sama. Sikap kompetitif di dunia nyata selalu selaras dengan sikap rakus, menang sendiri, tak mau mengalah, mirip dengan penderita penyakit psikologi : psykopat.
Sebaliknya, sikap ksatria, berkorban, mengutamakan orang lain, dan senang mengalah, sangat mudah didapatkan bukan dari kompetisi, melainkan dari sifat kasih sayang. Itu fitrah, “cipratan” kecil dari Sang Pengasih lagi Penyayang.
