
Siapapun pernah ketagihan. Tubuh, memiliki mekanisme yang membuat seseorang tetap ketagihan dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Bukan hanya apa yang dimakan, seperti ketagihan minum kopi, rokok atau alkohol, juga terhadap aktifitas tertentu seperti berhubungan seksual.
Para peneliti tubuh manusia menemukan hormon yang berhubungan dengan sifat-sifat ketagihan tersebut, disebut dopamin. Dari berbagai studi, hormon dopamin diproduksi dalam jumlah besar saat manusia mengkonsumsi makanan atau minuman tertentu, saat berhubungan sosial, saat mendapatkan pujian, atau saat berhubungan seksual.
Ada yang menyebut hormon itu sebagai “sinyal tubuh untuk ingin melakukannya lagi”. Tubuh memerlukan “sesuatu” secara terus menerus, sehingga mekanisme ketagihan normal adanya. Namun, efek ketagihan akan semakin memudar saat tubuh mengoreksi reaksi untuk pengeluaran zat dopamin atas aktifitas yang berlebihan, dan ini juga normal.
Contohnya, seseorang yang belum pernah minum alkohol akan merasakan efeknya walau hanya sedikit. Kalau kemudian sudah terbiasa, ia baru akan merasakan sensasi yang sama jika melewati batas kebiasaannya. Sama seperti para pengguna obat psikotropika, semakin lama semakin besar dosis yang dibutuhkan untuk ‘rasa’ yang sama.
Efek koreksi reaksi pengeluaran hormon bisa disebut efek ‘bosan’, atau ‘kebal’, sehingga ‘rasa’ yang ingin dinikmati lagi tidak didapatkan. Bagi yang terburu-buru ingin menikmatinya lagi, tentu dengan cara menambah dosis atau menggunakan cara-cara di luar kebiasaan. Bagi yang tidak, cukup dengan ‘mengistirahatkan’ beberapa waktu lamanya.
Namun harus diingat, ada ketagihan yang harus dihentikan dan ada yang dipelihara. Alat ukurnya, jangan sampai merusak tubuh, merusak hubungan sosial, atau hal negatif lainnya.
Ketagihan terhadap obat psikotropika disebut kecanduan. Disebut demikian karena obat itu sendiri berdampak buruk bagi kesehatan, sebagaimana alkohol, walau dikonsumsi dalam jumlah sedikit. Ketagihan berhubungan seksual bukan disebut kecanduan, karena aktifitas seksual bukan tindakan merusak fisik tubuh.
Hubungan seksual itu normal dilakukan berkali-kali, sesuai efek ketagihan. Namun, banyak yang “merasa bosan” dan ingin mengulangi sensasi dengan cara yang merusak, baik dengan obat-obatan maupun dengan tindakan di luar batas normal (misal, dengan mendekati zina). Padahal, cara paling murah dan sehat itu sangat sederhana, yaitu puasa (menahan diri). Dengan cara ‘mengistirahatkan’, efek ‘koreksi reaksi’ akan menurun dengan sendirinya.
Dengan pemahaman terhadap sisi-sisi sifat ketagihan ini, maka akan mudah dipahami bahwa kecanduan obat itu mudah disembuhkan. Selain itu, orang bisa dengan sadar mengelola “ketagihan”-nya sendiri. Bisa dengan memilih “ketagihan” pada hal yang baik-baik, bisa juga memelihara “ketagihan” itu sendiri, tanpa kemudian berganti menjadi kecanduan yang merusak.
