Apakah kita harus terus menerus berprasangka baik dan mempercayai seseorang? Allah memberi pelajaran penting : ada orang yang tidak bisa dipercaya selamanya, karena bukti-bukti telah nyata menunjukkannya. Ada pula yang harus diwaspadai, karena ciri-ciri sudah memperlihatkannya.
Berikut bukti-bukti atau ciri-cirinya :
Memalsukan. Ketika Nabi Muhammad diutus, tanda kenabiannya langsung dikenali oleh para ahli kitab. Mereka paham, tapi tidak mau mengakuinya, dan akhirnya memalsukan kitab yang asli.
Menyembunyikan sikap. Ketika mereka tidak memiliki posisi yang menguntungkan, mereka akan menyembunyikan sikap permusuhannya. Ketika berkumpul secara eksklusif dalam golongannya, mereka mengaku menyembunyikan sebagai sebuah strategi perang hujjah (opini).
Banyak omong tanpa dasar. Biasanya orang seperti ini tidak tahu apa-apa kecuali hanya mengerti rumor-rumor dan dugaan-dugaan. Kelas opini, bukan fakta.
Mengaku-aku. Mengaku atau mengklaim bahwa apa yang dikatakan adalah perkataan dari Allah, padahal itu hasil tangan mereka sendiri. Berkebalikan dengan plagiat walau sama-sama mengaku-aku, yakni tulisan orang diakui milik sendiri.
Optimisme diri yang berlebihan tanpa dasar. Tak pernah memenuhi janji tapi mengharap imbalan dan yakin tak terkena hukuman ketika ingkar janji.
Beberapa perbuatan dan sikap tersebut sama artinya menyengaja diri untuk berlaku khianat. Tak ada yang lebih buruk dari seorang pengkhianat, dan hukum yang berlaku : jangan dipercaya selama-lamanya, karena mereka tidak akan pernah beranjak dari statusnya sebagai pengkhianat.
Bagi orang yang jujur, teguh dalam kebenaran, serta dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan, merekalah yang layak dipercaya. Bukanlah orang yang beriman bila tidak jujur terhadap kebenaran.
