Ellen J. Langer, seorang profesor bidang psikologi pendidikan, menemukan tujuh mitos belajar yang menyesatkan melalu serangkaian studinya. Pemikiran dan anggapan yang dibangun di dunia pendidikan selama ini ternyata banyak yang keliru, tetapi tidak disadari. Bisa dikatakan, walau ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju, tetap saja kesesatan berfikir itu ada.
Sesat pikir adalah sebuah topik yang sering disinggung dalam Al Quran. Secara indah, ayat-ayatNya menguraikan berbagai kesalahan-kesalahan berfikir, baik disadari oleh si pembaca, maupun di bawah alam sadarnya. Bahkan, susunan dan kandungannya bisa dipakai untuk menguji apakah yang membacanya itu sesat pikir atau tidak.
Sesat pikir, sering muncul karena terlalu memaksakan rasa keingintahuan, tetapi kemudian berhenti saat rasa keingintahuannya terpenuhi, dengan sebuah kesimpulan pembenaran yang sebenarnya masih berupa dugaan.
Orang yang mendalam ilmunya karena menggunakan akal dengan benar, selalu menjaga agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu yang belum jelas. Bahkan sering membiarkan fenomena-fenomena tanpa penafsiran sama sekali. Landasan orang-orang yang mendalam ilmunya ini adalah bahwa jauh lebih banyak hal-hal yang tidak diketahui dibanding kapasitas pengetahuan dirinya.
Sedangkan orang yang sesat pikir itu selalu ingin menyimpulkan segala hal secara terburu-buru. Terkadang penyebabnya karena ingin membuat fitnah, sering pula karena hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu sesaat (istilah saat ini : kepo, keingintahuan yang tidak diperlukan). Ada banyak hal yang memang seharusnya dibiarkan tanpa perlu diketahui, karena memang tidak perlu untuk diketahui.
Rasa ingin tahu pasti dipunyai setiap manusia, Allah mengetahui itu karena Sang Penciptanya. Oleh karena itu Al Quran disusun olehNya dengan dua jenis ayat : muhkamat dan mustasyabihat. Ayat-ayat muhkamat itu ayat yang bisa disimpulkan oleh manusia, sedangkan satunya tidak. Sebabnya, Allah ingin manusia memperhatikan batasan diri, agar tidak selalu menuruti rasa ingin tahunya, sehingga bisa menjaga diri dari condong kepada kesesatan.
Salah satu cara menjaga agar tidak condong kepada kesesatan adalah dengan menyerahkannya kepada Allah, termasuk menyadari bahwa gerak hati itu berada di TanganNya. Hanya dengan rahmat dan karuniaNya diri seorang manusia tidak condong kepada kesesatan.
Kemudian, sebagai penguat, perlu mengingat diri terhadap hari di mana segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapanNya.
