Perayaan Tahun Baru, Budaya Berhala Kuno?

1
775
image3344
Paganisme

Perayaan tahun baru sepertinya sudah menjadi kebiasaan di Indonesia, untuk sebagian kalangan. Di beberapa tempat di daerah yang jauh dari hingar bingar kota metropolitan, tak begitu peduli dengan ada atau tidaknya perayaan tahun baru.

Di komunitas tertentu bahkan dianjurkan untuk tidak ikut merayakannya, seperti yang tercantum dalam posting dari berbagai akun medsos dan media portal muslim. Benarkah perayaan tahun baru itu haram? Atau mungkin makruh bahkan mubah?

Tidak ada yang tahu siapa yang mempopulerkan perayaan tahun baru di Indonesia. Yang jelas, tahun baru identik dengan tiupan terompet, kembang api dan turun ke jalan-jalan kota, tepat menjelang jam pergantian tahun. Sebuah perayaan suka cita yang sepertinya sah-sah saja dilakukan karena terlihat bukan acara peribadatan. Benarkah?

Perayaan tahun baru ternyata bukan berasal dari dunia modern. Sejak ribuan tahun silam, tahun baru dirayakan oleh orang-orang Mesir Kuno bertepatan dengan banjir besar tahunan sungai Nil ketika terlihat bintang Sirius. Lain halnya dengan orang-orang Fenisia dan Persia yang menandai tahun barunya dengan musim semi equinox.

Di Yunani Kuno ada perayaan tahun baru saat titik balik matahari musim dingin, sedangkan Imlek, tahun baru China, dilakukan pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin juga.

Perayaan tahun baru yang paling awal tercatat dalam sejarah terjadi pada masa Mesopotamia Kuno, terkait dengan kegiatan religius dan mitologi setempat. Perayaan yang dikenal dengan nama Akitu oleh orang-orang Babylonia ini ditandai dengan durasi waktu siang sama dengan durasi waktu malam, atau istilahnya ekuinox vernal. Tepat terjadi di akhir Maret (menurut penanggalan modern), dianggap sebagai perwakilan dunia alami yang kembali.

Selama Akitu dilangsungkan, patung para dewa diarak sebagai ritual kerajaan Babylonia. Kerajaan yang rajanya dikenal memiliki gelar Nimrod (atau Namrud) itu, menggunakannya secara politis untuk melegitimasi posisi raja agar semakin kuat atas nama dewa.

Kerajaan Romawi Kuno, sebagai imperium yang muncul setelah Babylonia, awalnya juga merayakan tahun baru di bulan Maret. Kalender Romawi awalnya terdiri dari 10 bulan atau 304 hari, diciptakan oleh pendiri Romawi bernama Romulus. Namun, baru setelah berabad-abad berlalu, kalender tersebut dinyatakan tidak singkron dengan matahari.

Kaisar Julius Caesar kemudian membuat kalender baru, setelah berkonsultasi dengan para ahli astronom, dengan nama Kalender Julian. Kalender ini mirip dengan kalender Gregorian saat ini. Kalender Julian ini diresmikan dengan dimulai dari bulan Januari, sebagai penghormatan terhadap dewa Janu, dewa yang dipercaya rakyat Romawi Kuno sebagai dewa perubahan dan permulaan Romawi.

Perayaan tahun baru Romawi Kuno dilakukan dengan membuat pengorbanan kepada dewa Janus, dengan harapan mendapatkan keberuntungan di tahun baru. Selain itu, mereka mendekorasi rumahnya dan mengikuti pesta-pesta.

Di awal abad pertengahan, kerajaan Romawi yang beralih dari penyembah pagan menjadi umat nasrani, perayaan tahun baru 1 Januari dihapuskan, karena bertentangan secara keyakinan. Walau pada saat itu negara-negara Katolik mengadopsi kalender Gregorian yang sangat mirip dengan kalender Julian, tidak lantas perayaan tahun baru diikuti dan lebih mengutamakan tanggal-tanggal istimewa seperti 25 Desember atau 25 Maret. Tanggal 1 Januari hanya dianggap sebagai hari penyunatan Yesus, sebagaimana kebiasaan penyunatan bangsa Yahudi yang dilakukan delapan hari setelah kelahiran.

Bahkan, pada tahun 1582 saat reformasi kalender Gregorian, ketika Paus Gregorius XIII menetapkan kembali 1 Januari sebagai awal tahun baru, negara-negara protestan seperti Inggris tidak segera mengikuti hingga tahun 1752.

Dari beberapa sumber sejarah seperti yang diuraikan di atas, nyata dan jelas bahwa perayaan tahun baru bukan berasal dari agama-agama samawi, melainkan dari kepercayaan paganisme atau berhala. Andai sekarang umat Kristiani dan Muslim berbondong-bondong merayakannya, bisa jadi tanda kemenangan pengaruh pagan atas agama samawi. Bagaimana menurut Anda?

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama