Komnas HAM Dicecar Soal Kasus Penyerangan Ulama


JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Rapat dengar pendapat Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) diwarnai banyaknya pertanyaan anggota Dewan terkait sikap komnas HAM atas kasus maraknya penyerangan ulama di Indonesia.

“Ini lagi ramai soal adanya kasus penganiayaan ustadz, mana suara Komnas HAM? Kok nggak ada suaranya,” kata anggota Komisi III F PDI Perjuangan Arteria Dahlan pada Rapat Dengar Pendapat antara Komisi III dengan Komnas HAM di Jakarta, Senin (19/3).

Sebelumnya ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik memaparkan beberapa kinerja yang telah dilakukannya. Salah satunya soal telah menyelesaikan penyidikan kasus pelanggaran HAM berat. Selain itu juga soal pemantauan pelaksanaan pilkada serentak.

Komnas HAM telah menyelesaikan penyelidikan sembilan pelanggaran HAM berat dan telah diserahkan ke Kejagung, sehingga tinggal menunggu tindak lanjut kejagung.

Lebih lanjut Arteria Dahlan mendesak Komnas HAM agar ada terobosan-terobosan baru dalam penyelesaian pelanggaran HAM.

“Komnas HAM saat ini belum ada greget. Tidak ada suaranya. Saya ini merindukan Komnas HAM yang bersuara lantang membela HAM, jika perlu melawan pemerintah tidak apa asal benar yang dibela HAM nya,” kata Arteria.

Komnas HAM tambah Arteria, hanya “menunggangi” yang sudah ada. Contohnya memantau penyidikan kasus Novel Baswedan.

“Kenapa Komnas HAM ikut memantau. Komnas HAM bisa lakukan sendiri, lakukan penyelidikan siapa pelakunya,” kata Arteria.

Arteria menilai Komnaa HAM hanya “kegenitan “jika mau membikin tim pemantau pilkada serentak.

Soal kasus penyerangan ulama juga ditanyakan anggota komisi III lainnya. Anggota F Gerindra, Wihadi Wiyanto mengatakan soal penyerangan ulama oleh orang gila.

“Orang gilanya perlu dilindungi tapi ulama juga harus dilindungi. Bagaimana Komnas HAM melihat persoalan ini,” kata Wihadi.

Selain itu juga persoalan tanah di Yogyakarta, persoalan surat edaran di Papua ataupun soal kasus Novel Baswedan.

Dalam kesempatan itu komisioner Komnas HAM Sandrayati Moniaga mengakui memang masih banyak kekurangan terkait kinerja.

“Namun mohon dimaklumi komisioner saat ini baru bekerja tiga bulan. Jadi masih perlu waktu lebih untuk menunjukkan kinerjanya. Meskipun kami apresiasi sorotan yang ada, ini membuktikan adanya perhatian serius dari dewan,” kata Sandrayati. (Ant/SU05)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Breaking News: Akhirnya, Presiden Jokowi Putuskan Tes Massal Covid-19

Tidak mengambil kebijakan Lockdown, Presiden Jokowi akhirnya lebih memilih melakukan tes massal Covid-19.

Tahukah Anda, Berwudhu Dapat Kurangi Risiko Tertular Virus Corona?

Berwudhu merupakan kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari muslim.. Tahukah anda bahwa berwudhu bisa mengurangi resiko tertular virus Corona?

Cegah Kepanikan, AMSI Imbau Media Kedepankan Kode Etik dalam Pemberitaan Wabah Corona

Wens menjelaskan beberapa langkah yang harus dilakukan media-media anggota AMSI dalam pemberitaan terkait virus Covid-19 tersebut.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

TERPOPULER

close