Jala PRT: Pemerintah Enggan Bahas RUU Pekerja Rumah Tangga


JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Koordinator Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) Lita Anggraini menilai negara belum bersungguh-sungguh melindungi pekerja rumah tangga yang bekerja di dalam negeri maupun luar negeri.

“DPR dan pemerintah tidak pernah bersedia bicara dan membahas situasi kerja layak pekerja rumah tangga,” kata Lita dihubungi di Jakarta, Rabu (14/2).

Menurut Lita, hal itu terbukti dengan keengganan DPR dan pemerintah untuk membahas Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) dan ratifikasi Konvensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) tentang Situasi Kerja Layak bagi Pekerja Rumah Tangga.

“Ketidakmauan ini menunjukkan ketakutan para anggota DPR dan pejabat pemerintah sebagai majikan dan pelaku pelanggaran hak-hak pekerja rumah tangga,” tuturnya.

Selain itu, Lita mengatakan pemerintah juga belum mensyaratkan situasi kerja layak untuk melindungi pekerja rumah tangga dalam nota kesepahaman atau perjanjian dengan pemerintah negara tujuan kerja.

Lita menilai pemerintah menyepelekan situasi pekerja rumah tangga yang menjadi kebanyakan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

“Pemerintah juga belum bersungguh-sungguh membekali pekerja rumah tangga yang bekerja di luar negeri dengan program pendidikan dan pelatihan yang berbasis perlindungan,” katanya.

Selama ini, pemerintah terkesan menyerahkan pendidikan dan pelatihan bagi pekerja rumah tangga di luar negeri sepenuhnya kepada agen yang lebih mengutamakan keuntungan.

Karena itu, terkait kematian pekerja rumah tangga warga negara Indonesia di Malaysia, Lita menilai negara juga harus dituntut karena tidak memberikan perlindungan maksimal kepada tenaga kerja.

Sebelumnya, media Malaysia melaporkan pekerja rumah tangga warga negara Indonesia Adelina Lisio (21) meninggal dunia di Rumah Sakit Bukit Mertajam, Pulau Pinang, Malaysia, Minggu (11/2).

Wanita asal Nusa Tenggara Timur itu bekerja di rumah semi terpisah di Taman Kota Permai dan diduga telah disiksa oleh majikannya. (Ant/SU02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Penegakan Hukum Yang Kaya Kezaliman dan Miskin Rasa Keadilan

Bercermin kepada praktek penegakan hukum di Indonesia beberapa tahun tarakhir, khususnya di era Rezim Pemerintahan saat ini, tentunya kita melihat banyaknya praktek-praktek penanganan kasus hukum yang masih jauh dari apa yang diharapkan.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close