Fahira: “Bom Besar” Semua Aksi Teror ini Adalah Membuat Kita Saling Benci

0
95
  • 24
    Shares
Korban tewas akibat ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Surabaya, Ahad (13/5/2018). (foto:Yudi/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris mengatakan bahwa aksi terorisme yang kembali terjadi menjadi ujian berat bagi keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Hal ini disampaikan Fahira terkait peristiwa serangan teroris di tiga Gereja di Surabaya pada Ahad (13/5) saat misa minggu pagi sedang berlangsung.

“Kali ini benar-benar menghentakan nurani kita karena menyerang tiga rumah ibadah (gereja) dan umat yang sedang beribadah serta mengakibatkan puluhan korban luka dan meninggal,” kata Fahira lewat rilis yang diterima SERUJI, Senin (14/5).

Yang amat menguncang, lanjut Fahira, diantara korban tersebut terdapat anak-anak dan pelaku pengeboman diduga sebuah keluarga yang mengikutksertakan anak-anaknya dalam aksi pengeboman.

Loading...

“Saat luka kita masih basah, pagi tadi terjadi lagi ledakan di Mapoltabes Surabaya,” ujarnya.

Menurut Fahira aksi teror tersebut sangat biadab dan “Bom besar” dari semua aksi teror tersebut adalah, antarwarga negara saling benci sehingga mudah terprovakasi.

“Lihat saja percakapan di media sosial, saling curiga, saling tuduh, saling benci, saling hujat sudah menyemai paska peristiwa ini. Secara tidak sadar kita sudah masuk dalam skenario mereka yaitu melemahkan kita sebagai sebuah bangsa. Kalau sudah lemah, apa saja bisa mereka lakukan,” tukas Senator asal Jakarta ini.

Fahira mengungkapkan, aksi teror (bom) yang menyasar rumah ibadah dan umat yang sedang beribadah adalah cara yang paling “ampuh” untuk merusak sendi-sendi akal sehat warga negara sebuah bangsa.

Setelah teror ini, kata Fahira, sutradara dari semua aksi terkutuk ini berharap sebuah “bom besar kebencian” akan meledak di berbagai daerah di Indonesia.

“Jangan sampai kita jadi pion-poin atau alat untuk memuluskan tujuan mereka. Bangsa ini merdeka dan bersatu hasil keringat, darah, dan air mata, tidak semudah itu diporak-porandakan oleh mereka. Bangsa ini terlalu besar untuk takut apalagi takluk dengan aksi-aksi teror seperti ini,” ujarnya.

Namun, lanjut Fahira, aksi terorisme ini akan menjadi bencana besar bagi bangsa ini, jika negara tidak punya narasi yang kuat dan aksi yang tepat untuk mengakhiri aksi-aksi terorisme di negeri ini.

Memberantas terorisme, sambung Fahira memang tugas semua elemen masyarakat. Namun, yang paling terdepan memberantasnya adalah negara karena diberi kewenangan besar oleh rakyat mempergunakan semua sumber daya untuk mencegah dan memberantas terorisme serta menjaga keamanan warga negaranya.

“Negara harus minta maaf karena belum mampu menjaga keamanan warganya dan bangun optimisme bahwa peristiwa teror seperti ini jadi yang terakhir. Presiden harus mengevaluasi strategi pemberantasan terorisme selama memimpin negeri ini,” pungkas Fahira. (ARif R/Hrn)

Langganan berita lewat Telegram
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU