Pengamat: Politikus Pindah Parpol Berorientasi Kekuasaan

0
25
Partai politik

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno menilai politikus yang loncat pagar atau berpindah partai politik hanya berorientasi pada kekuasaan.

Meskipun lazim terjadi dalam perpolitikan di Indonesia, kata Adi di Jakarta, Selasa (17/4), bukan berarti perilaku seperti itu bisa dianggap angin lalu karena hal itu menunjukkan lemahnya kaderisasi di tubuh partai politik.

“Kader yang loncat itu merupakan contoh buruk karena hanya berorientasi pada kekuasaan. Partai yang menerima politikus itu juga memperlihatkan bahwa mereka tidak bisa menghadirkan kader sendiri,” katanya.

Menurut dia fenomena politikus kutu loncat menjadi kabar buruk bagi rekrutmen elit partai politik sekaligus elit nasional.

“Itu artinya, parpol gagal menginjeksi ideologi sehingga parpol hanya dianggap sebagai alat mendapat kekuasaan semata. Bukan dimaknai sebagai instrumen mengabdi pada rakyat dan kebaikan,” katanya.

Alasan berpindah partai memang bisa beragam. Namun, menurut Adi, kebanyakan, diakui atau tidak diakui, lebih demi kepentingan pribadi.

“Biasanya mereka mencari alasan pembenaran atas manuver yang dilakukan. Tinggal masyarakat yang menilai,” katanya.

Menurut dia politikus pindah partai lebih disebabkan tidak lagi mendapat posisi strategis di partai lama atau mendapat tawaran posisi yang lebih baik di partai baru.

Selain itu, bisa juga untuk mencuri perhatian masyarakat karena namanya telah tenggelam. Di Indonesia, politikus pindah partai masih menjadi perhatian media massa untuk diberitakan.

“Nama mereka yang sebelumnya tenggelam pun seakan mendapatkan momennya kembali saat mereka pindah partai. Tampaknya, manuver pindah partai mereka lakukan sebagai cara mudah untuk mendapatkan perhatian publik,” katanya.

Menurut Adi, kepindahan politikus memang berpengaruh bagi partai yang ditinggalkan karena pemilih loyal pasti akan ikut juga.

“Tapi tidak signifikan,” kata dosen ilmu politik pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga peneliti pada The Political Literacy Institute itu.

Menjelang Pemilu 2019, sejumlah politikus memilih pindah partai sebagai kendaraan baru, di antaranya Priyo Budi Santoso yang pindah dari Partai Golkar ke Partai Garuda dan Ahmad Yani dari PPP ke PBB. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Per Hari Ini Layanan Yahoo Messenger Berakhir

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Layanan kirim pesan yang dulu amat populer, dan hampir semua pengguna komputer menggunakannya untuk berkomunikasi, Yahoo Mesengger, dalam hitungan jam hari...

Dianggap “Loyalis” SBY, Peluang Moeldoko Dampingi Jokowi Bisa Terganjal

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Nama Mantan Panglima TNI, Moeldoko makin santer disebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden (cawapres) ...
IMG_20180324_111527

Optimis Prabowo Menang, Koalisi Gerindra, PAN, dan PKS Mulai Susun Kabinet

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Koalisi Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional menyatakan mengambil langkah maju untuk menyusun rancangan kabinet sejak dini, yang...
Prabowo Subianto

Kantongi Tiket Capres, Gerindra Optimis Prabowo Akan Memenangkan Pilpres 2019

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Partai Gerindra menyatakan ketua umumnya Prabowo Subianto telah memastikan maju dalam pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2019. Hal itu setelah koalisi pertai pendukung...

Salah Persepsi di Masyarakat Terkait SKM, Senator Minta Pemerintah Sosialisasi Masif

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Karena adanya persepsi yang keliru ditengah masyarakat, terkait susu kental manis (SKM), anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Fahira Idris meminta Pemerintah...