Tegaskan Staquf Tidak Atas Nama Negara ke Israel, Ini Penjelasan Presiden Jokowi

2
260
  • 59
    Shares
Jokowi bersama KH Said Agil Siradj. (foto:istimewa)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Munculnya polemik atas kunjungan anggota Wantimpres Yahya Cholil Staquf ke Israel dan menjadi pembicara dalam forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) pada Ahad (10/6), mendapat tanggapan dari Presiden Jokowi.

Presiden menyampaikan bahwa ia telah menerima informasi keberangkatan Staquf ke Israel. Namun ditegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan atas nama negara dan tidak mewakili negara.

“Itu adalah urusan pribadi. Beliau menyampaikan urusan pribadi karena beliau diundang sebagai pembicara di Israel,” kata Presiden Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor, Selasa (12/6).

Loading...

Disampaikan juga oleh Jokowi bahwa ia akan memanggil Staquf setelah pulang ke tanah air.

“Saya juga belum mendapatkan laporan, beliau belum pulang, nanti saya panggil. Intinya (di Israel) juga berikan dukungan pada Palestina,” kata Presiden.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia tidak berubah sedikitpun keberpihakannya kepada Palestina, terkait kunjungan Staquf yang juga mendapat kecaman yang luas dari Palestina.

Hal itu disampaikan Retno kepada pemerintah Palestina disela pertemuan PBB di New York beberapa hari lalu.

“Kita sudah menjelaskan bahwa tidak ada perubahan kebijakan, atau policy apapun terhadap Palestina,” ungkap Retno usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Bogor, Selasa (12/6).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kunjungan Khatib Aam PBNU yang juga merupakan anggota Wantimpres Yahya Cholil Staquf ke Israel dan menjadi pembicara di forum AJC, Ahad (10/6), telah menuai kritik dan kecaman dari dalam dan luar negeri.

Tak kurang rakyat Palestina mengecam kunjungan Staquf tersebut yang dianggap telah lakukan kejahatan pada bangsa Palestina.

Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengatakan  kehadiran pria yang akrab disapa Gus Yahya di acara tersebut tidak hanya penghinaan terhadap rakyat dan pengorbanan bangsa Palestina, tetapi juga kepada rakyat Indonesia dan sejarah panjangnya dalam mendukung perjuangan Palestina.

“Kunjungan ini merupakan bentuk dukungan besar dan pengakuan bagi rezim fasis ini,” kata Hamas lewat rilisnya yang dikutip lewat laman Anadolu Agency, Senin (11/6).

Hamas menegaskan kunjungan itu dilakukan di tengah penolakan masyarakat dan tidak adanya hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel.

Selain itu, Hamas menilai kehadiran Yahya akan memberikan pembenaran bagi Israel untuk melakukan kejahatan lebih lanjut terhadap rakyat dan tempat-tempat suci bangsa Palestina. (ARif R/Hrn)

loading...

2 KOMENTAR

  1. Pemerintah dan PBNU sama sekali diam saja ketika Staquf dapat undangan.
    Diam utk masalah yg serius termasuk bentuk dukungan yg tdk diucapkan. Berarti termasuk ikut serta.
    Setelah Staquf ke Israel, Presiden maupun PBNU juga tdk mengecam, malah cuci tangan. Jelas ini tanda bhw semua itu atas restu mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama