Tiga Napi Kasus Terorisme Tolak Ikuti Upacara Kemerdekaan

TULUNGAGUNG – Tiga narapidana kasus terorisme yang saat ini mendekam di sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan klas IIB Tulungagung, Jawa Timur, menolak mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI bersama ratusan warga binaan setempat, Kamis (17/8).

Kepala LP Klas IIB Tulungagung Erry Taruna mengatakan, pihaknya sudah membuka semua pintu kamar tahanan dan mengajak ketiga napi terorisme itu untuk ikut seremoni upacara bendera memperingati Kemerdekaan ke-72 RI, namun mereka memilih berada di dalam kamar (sel tahanan).

“Sementara mereka hanya sebagai penonton. Kami belum bisa tarik secara menyeluruh untuk mengikuti kegiatan ini, apalagi salah satunya baru pindahan warga binaan pindahan dari (LP) Tuban. Jadi belum bisa (kami paksa) wajib ikut. Mau ikut silakan, tidak ikut tidak apa-apa, terserah mereka,” kata Erry Taruna dikonfirmasi usai upacara Kemerdekaan dengan 287 warga binaan setempat.

Erry mengatakan tim sipir telah berupaya melakukan pendekatan secara psikologis untuk persuasi, termasuk dengan membuka pintu sel tahanan menjelang gelaran upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 WIB, namun ketiga napi kasus terorisme tersebut bersikeras bertahan di dalam sel.

“Mereka mengakunya ya belum siaplah. Kami tentu tidak bisa memaksakan itu karena mereka termasuk napi kasus tertentu yang mendapat perlakuan khusus sehingga kami juga harus melakukan pendekatan yang baik dan terbuka,” ujarnya.

4 KOMENTAR

  1. Pembuktian Cinta bukan sekedar menhormat bendera semata, sayangnya kebanyakan kita masih mencintai Indonesia sebatas upacara bendera, Sayangnya, banyak juga yang mengaku cinta tapi tindakannya justru merusak dan mempermalukan negara tercinta ini.

  2. mengikuti upacara bendera, menghormati bendera merah putih, menyanyikan lagi Indonesia raya, adalah tanda cinta negara dan bangsa. sehingga penolakan untuk melakukannya tentulah tidak baik. Bisa diartikan tidak cinta (baca:mendukung) negara dan bangsa. Tapi sesungguhnya, hal-hal tersebut hanyalah formalitas saja, kulit yang nampak dari luar, yang sangat mudah dilihat dan dinilai oleh orang lain. Yang susah adalah esensi atau isi/bukti dari cinta bangsa dan negara. Hal-hal nyata apa yang telah dilakukannya bagi bangsa dan negara, yang berguna bagi masyarakat, yang mengangkat harkat dan martabat bangsa. Pembuktian cinta dan bukan sekedar omongan semata. Sayangnya, kebanyakan kita masih mencintai Indonesia ini dengan cara sebatas kulit belaka. Sayangnya, banyak juga yang mengaku cinta tapi tindakannya justru merusak dan mempermalukan negara tercinta ini.

    • *REFLEKSI HUT NKRI*

      Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan. Kalau Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945. Walaupun hanya beda 2 hari, Korea Selatan yang dahulu lebih miskin dari Indonesia, sekarang menempati papan atas Negara Maju.

      *Hmmm …. hanya berbeda 2 hari tapi bisa berbeda segalanya … !*

      Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia. Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah. Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.

      Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya? Jawabannya, pasti tidak.
      Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya. Jika di Indonesia di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Bagi mereka, “Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea”.

      Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah. Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya “밥을 먹었어요?” (“Sudah makan nasi?”), jika belum maka akan diajak makan. Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini.

      Pesan dari Presiden Korea saat itu, _*”Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.”*_ _(Mari kita bekerja lebih keras dan lebih keras. Mari kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak-anak kita dijual ke luar negeri)_

      Dan kemudian ditutup oleh quote ini, _*”Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.”*_ _(“Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yg layak untuk dibanggakan.”)_

      *Bisakah kita?*

      “`HARUS BISA“`

      *Merdekaaaaa…..*

      *DIRGAHAYU BANGSA INDONESIA …*.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Tiga Budaya Sunda yang Unik, Nomer 1 Sudah Jarang Ditemukan

Semua tradisi dan budaya di Indonesia unik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Tak ketinggalan juga budaya Sunda dan segala tradisi yang dijalankan.

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.