close

Tahukah Anda, Fleksibel itu Menyehatkan ?

SERUJI.CO.ID – Kekakuan itu ialah tanda kematian, sebaliknya, fleksibilitas atau kelenturan itu adalah kehidupan.

Ketika sendi lutut Anda misalnya ada masalah, tidak dapat diluruskan, dan Anda membiarkanya, lama-lama sendi itu akan semakin mengeras, dan suatu saat Anda tidak akan dapat sama sekali menekuknya atau meluruskannya, sendi Anda sudah mati. Sendi yang sehat sekalipun bila tidak gunakan, Anda akan kehilangannya. Bahkan, bila semuanya sudah kaku, Anda juga benar-benar sudah tidak bernyawa lagi.

Sebaliknya, dengan sendi-sendi yang lentur, flkesibel Anda bisa berlari, menari, melempar bola, bahkan memanjat pohon. Saya ingat masa anak-anak dulu, waktu itu saya bisa menekuk pinggang saya ke belakang, sehingga saya dapat mengambil sebuah batu yang ada di belakang saya. Ada permainan seperti itu waktu dulu di kampung, namanya patah pinggang.

Lalu, kalau ditanya sekarang, untuk melakukan hal yang sama, “apa saya bisa ?”

Loading...

Jangankan seperti itu, berusaha mencium lutut dengan membungkuk ke depan sudah sulit sekali. Dan, kalau ada yang bertanya, “mana yang lebih sehat?” Tulang belakang saya yang sekarang atau waktu anak-anak ketika masih lentur dulu?” Pasti semua akan menjawab waktu anak-anak dulu.

Hipertensi, Anda pasti tahu penyakit ini. Penyakit yang mulai mengancam Anda seiring dengan bertambahnya usia Anda, artinya semakin tua Anda semakin besar kemungkinan menderita penyakit ini. Salah satu teori terjadinya penyakit itu ialah karena semakin kakunya pembuluh darah Anda, sehingga jantung harus memompa lebih keras agar darah tetap mengalir sampai ke seluruh tubuh Anda.

Semakin kaku pembuluh darah anda maka akan semakin tinggi tekanan darah anda, dan bila akibat kekakuan itu, darah tidak dapat lagi menembusnya, kematian bisa terjadi.

Seperti diketahui, dari beberapa obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah ini diantaranya adalah, disebut “vasodilator” yang berkeja mengembalikan kelenturan pembuluh darah.

Jadi, “mana yng lebih sehat pembuluh darah yang kaku, keras, atau yang lentur, fleksibel?” jawabannya pasti yang fleksibel.

Tidak hanya secara fisik bahwa kekakuan adalah tanda kematian, sebaliknya kelenturan, fleksibikts itu sesuatu yang sehat dan menyehatkan. Bagaimana Anda berpikir atau bereaksi terhadap situasi tertentu juga sama.

Perumpamaan dibawah ini, barangkali dapat menggambarkan perlunya Anda berpikir fleksibel. Suatu waktu Anda ingin ke luar kota dengan kereta api. Semuanya sudah Anda siapkan, bahwa akan naik kereta pada jadwal tertentu, namun sampai di peron kereta sudah berangkat.

Bagaimana reaksi Anda menghadapi situasi demikian? Anda marah-marah, mengumpat, kecewa berlari mengejar kereta yang sudah melaju itu? Atau Anda berpikir, sambil senyum, oh ya, tidak apa-apa, ada kereta selanjutnya, saya dapat isirahat dulu, mana tahu di kereta nanti saya dapat tempat duduk.

Lalu, barangkali Anda ingat Firman Allah: boleh jadi Anda tidak menyukai seseuatu, padahal banyak kebaikan yang diberikan bersamanya (QS 4: 19)

Bayangkan kalau Anda mengambil sikap sebaliknya, Anda tidak terima, kemudian marah-marah, mengumpat, membanting tas Anda. Apa yang tejadi? Kereta akan kembali untuk Anda? Jelas, tidak. Yang pasti, jantung Anda akan berdebar kencang, dada Anda terasa sempit dan sesak, keringat dingin bercucuran. Apa ini bukan penyakit? Ah, Anda mungkin beranggapan sesekali menghadapi situasi seperti ini boleh saja.

Tetapi ingat, zaman sekarang ini, situasi demikian akan Anda hadapi di mana dan kapan saja dalam bermacam bentuk, bahkan di belakang dapur Anda sendiri. Kalau Anda tidak fleksibel menghadapinya Anda akan tua lebih dini, dan bahkan lupa bernafas lebih cepat.

Kemudian, sebagai pembelajaran, sebenarnya alam sudah memberikan contoh. bahwa fleksibel itu lebih baik, dan hidup. Coba perhatikan pohon ynang kaku, bila ditiup angin kencang akan tumbang dengan sangat mudah, tetapi pohon yang fleksibel tidak demikian, tidak akan tumbang akibat badai yang menerpa. Bahkan, akarnya akan semakin menghujam dalam ke tanah, dan tentu saja akan semakin kuat.

Jadi, hendaknya kita juga demikian, emosi kita tidak mudah terpancing oleh hal-hal sepele. Darah kita jangan cepat mendidih hanya ketika melihat sesuatu yang tidak kita senangi.

Ketika sedang asyik menyetir mobol, tiba-tiba sebuah mobil lain meyalib Anda dengan kencang tanpa ada aba-aba, dan hampir menyerempet Anda. Apa yang Anda lakukan?

Mungkin umpatan, sumpah serapah menyembur dari mulut Anda, menekan klakson dengan emosional berulang kali, kalau bisa mengejarnya. Lau, apa yang Anda rasakan waktu itu? Pasti dada Anda sesak, jantung Anda berdebar cepat memburu, wajah Anda memerah geram, otot-otot Anda tegang. Apakah ini sehat?

Tetapi bila Anda sedikit lebih fleksibel, kemudian, dalam hati Anda berpikir, jangan-jangan sopir itu ada masalah, ada sesuatu yang harus dikejarnya, barangkali istrinya mau melahirkan atau sang sopir sendiri lagi sakit perut. Lalu, Anda menarik nafas dalam sambil senyum dan berdoa semoga Allah melindunginya. Apa ini tidak lebih sehat? Jelas, itu lebih sehat dan lebih baik.

Fleksibel itu ibaratkan belajar silat, Anda tahu kapan harus menunduk, kapan harus mengelak, bahkan tahu kapan harus menangkis, menyerang, dan menendang.

Bayangkan kalau Anda hanya bisa kaku tegak berdiri, musuh pasti dengan mudah menjatuhkan Anda. Satu tendangan yang tepat di ujung hati Anda, membuat Anda dapat jatuh terkapar.

Sayang, banyak kita yang kaku dalam segala hal, termasuk berpikir, selalu merasa benar, lebih tahu, sementara orang lain salah. Lihat saja para politikus kita sekarang, tidak hanya yang dipertontonkan di parlemen, eksekutif sama saja, tidak sehat, dan sayangnya kita ikut-ikutan juga.

(SU01)


Bagi pembaca SERUJI yang ingin konsultasi ke “Dokter SERUJI Menjawab” silahkan menuju ke sini.
loading...
Irsyal Rusad
Dokter spesialis penyakit dalam
Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Ingin Turunkan Berat Badan? Inilah Prinsip Dasarnya!

Berat badan akan turun bila kalori yang digunakan melebihi kalori yang masuk, atau kalori yang kita bakar lebih banyak dari kalori yang dihasilkan tubuh dari makanan yang dikonsumsi.

Diabetes: Kenali Penyakit Yang Jumlah Penderitanya Terus Meningkat (2)

Diabetes melitus adalah penyakit kronis, sekali seseorang didiagnosis sebagai penyandangnya, maka pada umumnya penyakit ini akan mendampinginya sepanjang usianya. Dengan kata lain, diabetes ini akan menjadi temannya selamanya.

Tahukah Anda, Fleksibel itu Menyehatkan ?

Kekakuan itu ialah tanda kematian, sebaliknya, fleksibilitas atau kelenturan itu adalah kehidupan.

TERPOPULER