Rata-rata Jumlah Bencana Era Jokowi Lebih Banyak, Begini Penjelasan BNPB

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menanggapi masyarakat yang kerap mengaitkan jumlah bencana alam dengan masa pemerintahan Presiden RI. Menurut BNPB, jumlah bencana dan pemerintahan tidak ada kaitannya.

“Saya sampaikan biar tidak digoreng ke mana-mana, bahwa tidak ada kaitan antara jumlah kejadian bencana dengan kepemerintahan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada wartawan di gedung Graha BNPB, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (28/12).

Sebelumnya, BNPB merilis data jumlah bencana yang terjadi pada setiap presiden yang memimpin Indonesia:
1. Presiden Soeharto (Januari 1966-Mei 1998) = 229 bencana
2. Presiden B.J Habibie (Juni 1998-September 1999) = 127 bencana
3. Presiden Abdurrahman Wahid (Oktober 1999-Juli 2001) = 138 bencana
4. Presiden Megawati (Agustus 2001-Oktober 2004) = 1.221 bencana
5. Presiden SBY (November 2004-Oktober 2014) = 12.820 bencana
6. Presiden Jokowi (November 2014- 27 Desember 2018) = 9.957 bencana

Berdasarkan data yang tercatat BNPB, rata-rata bencana alam banyak terjadi pada masa Jokowi sebanyak 9.957 bencana atau 2.489 bencana per tahun, dan pemerintahan SBY sebanyak 12.820 bencana atau 1.282 bencana per tahun. Namun, menurut Sutopo, banyak bencana alam pada masa pemerintahan sebelum SBY yang tidak tercatat.

“Berdasarkan data ada banyak (bencana) di zaman SBY dan Jokowi, bukan berarti dulu (sebelumnya) tidak banyak. Dulu sebenarnya bencana dalam satu tahun itu lebih dari 1.000 bencana, tapi banyak yang tidak terdata,” ungkapnya.

Apalagi sebelum era Presiden Jokowi, BNPB sebagai badan penanggulangan bencana di Indonesia belumlah terbentuk.

“BNPB baru didirikan pada tahun 2008,” jelas Sutopo.

Selain itu, Sutopo mengungkapkan saat ini faktor teknologi informasi dan komunikasi yang lebih canggih dan cepat dibandingkan kondisi dulu sehingga terkesan jumlah bencana lebih banyak saat ini.

“Dulu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang terkait dengan pendataan pelaporan belum semaju sekarang, sehingga kita melihat data bencana saat ini memang terus meningkat,” tuturnya.

Kemudian Sutopo mengatakan saat ini banyak terjadi bencana hidrometeorologi di Indonesia, seperti kebakaran, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem.

“Karena terkait ulah manusia. Hutan semakin berkurang, lingkungan semakin rusak, lahan kritis masih meningkat. Otomatis kerusakan lingkungan tadi menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi,” ujar Sutopo. (SU05)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Ahmad Dhani The Warrior

Jika John Lennon mampu menciptakan "protest song" seperti "Give peace a chance" atau "imagine", tanpa penderitaan di penjara, maka Dhani akan mampu lebih hebat dari Lennon. Maksudnya, dia selain penggubah lagu/syair dan penyanyi, akan sekaligus menjadi sang pejuang. Ahmad Dhani The Warrior.

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER