Pertemuan Kim dan Trump Akan Ada Tarik Ulur Kepentingan

0
6
Pertemuan bersejarah antara Presiden Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump di Singapura (foto:toronto star)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Pakar Hubungan Internasional UGM Yogyakarta Nur Rachmat Yuliantoro menilai akan ada tarik ulur kepentingan pada pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un.

“Hal yang diharapkan banyak pihak yaitu denuklirisasi tidak akan mudah. Kedua pihak memiliki situasi sulit untuk saling memenuhi tuntutan lawan bicara,” kata Rachmat di Jakarta, Selasa (12/6).

Ia menjelaskan, bagi Korea Utara pengembangan nuklir telah menjadi penjamin keamanan rezim Kim, sehingga tidak akan dengan mudah menuruti keinginan Presiden Trump untuk melucuti nuklir.

Sementara bagi AS, pelucutan nuklir tidak mungkin dilakukan tanpa penarikan pasukan mereka dari Korea Selatan.

“Ini jadi hal yang mungkin akan sulit dipenuhi oleh Trump. Jadi situasinya tarik ulur,” pungkas Rachmat menjelaskan.

Sementara itu, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai proses perdamaian di Semenanjung Korea akan memakan waktu yang cukup lama hingga bisa terwujud.

“Hal ini terkait dengan pelucutan nuklir, mereka pasti tidak akan dengan mudah melakukan itu,” tutur Dino.

Kim juga pasti akan enggan untuk melakukan permintaan tersebut mengingat besarnya upaya yang telah diberikan rezim tersebut demi menjadi negara berkekuatan nuklir.

“Denuklirisasi ini sulit. Mereka sudah mengerahkan waktu dan tenaga sejak lama dan dalam jumlah yang besar. Saat pertemuan pun, saya rasa mereka tidak akan dengan mudah mengiyakan permintaan denuklirisasi,” katanya.

Pada pertemuan yang berlangsung di Singapura tersebut, Presiden Trump dan Kim Jong-Un menandatangani sebuah dokumen menyeluruh menyusul pertemuan bersejarah yang mengejar denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Mengutip kantor berita Reuters, awak media yang hadir dalam kesempatan tersebut hingga saat ini belum mengetahui isi dokumen tersebut.

Menurut Reuters, sekalipun terobosan yang dibuat ini hanyalah awal untuk sebuah proses diplomasi, namun pertemuan ini dapat membawa ke perubahan yang langgeng pada ranah keamanan di kawasan Asia Timur seperti saat Presiden AS Richard Nixon mengunjungi Beijing pada tahun 1972 yang mengantarkan pada transformasi China. (Ant/Su02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
Sohibul Iman - Sudirman Said

Sudirman: 27 Juni Akan Muncul Pemimpin Baru Yang Bekerja Keras untuk Rakyat

SEMARANG, SERUJI.CO.ID - Calon Gubernur nomor urut dua dalam Pilgub Jateng 2018, Sudirman Said, optimis akan lahir pemimpin baru di Jawa Tengah usai pencoblosan...
habib rizieq shihab

Miliki Pengaruh Besar, Tempatkan Habib Rizieq Sebagai Pemimpin Umat Saat Ini

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio mengungkapkan bahwa pengaruh Habib Rizieq Shihab sangat diperhitungkan jelang pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal itu,...

Terkait SP3 Kasus Habib Rizieq, Jokowi: Tidak Ada Intervensi Pemerintah

TANGERANG, SERUJI.CO.ID - Presiden Jokowi menegaskan bahwa tidak ada intervensi pemerintah dalam penerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus dugaan "chat" berkonten pornografi yang melibatkan...

Kemendagri Dukung Ketegasan Kapolri Menjaga Netralitas Polri di Maluku

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kementerian Dalam Negeri menyatakan mendukung ketegasan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam menjaga netralitas Pilkada di Maluku. "Tentu kami 'respect' dan mendukung atas...

Bantah Karena Ketidaknetralan, Polri Enggan Jelaskan Alasan Mutasi Wakapolda Maluku

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membantah mutasi jabatan Brigjen Pol Hasanuddin sebagai Wakapolda Maluku akibat ketidaknetralan Hasanuddin dalam mengawal pelaksanaan Pemilihan...