Perjalanan Panjang GNPF MUI Bangun Komunikasi dengan Presiden

1
130
  • 10
    Shares
gnpf-mui
Presiden Jokowi menerima kedatangan Pengurus GNPF-MUI dalam rangka silahturahim Hari Raya Idul Fitri, pada Ahad, 25/6/2017. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) menyatakan telah menggagas pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tepat di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriah atau Ahad, 25/6/2017.

Demikian diungkapkan Ketua GNPF MUI KH. Bachtiar Nasir di dalam konferensi pers di Aula AQL Islamic Center, Tebet, Jakara Selatan, Selasa (27/6) siang.

“Yang benar bukan meminta, tapi kami menggagas pertemuan antara GNPF dengan Pak Presiden. Kata itu (gagas) yang harus digarisbawahi. Kesannya GNPF minta bertemu Presiden salah besar,” ujar Bachtiar.

Gagasan GNPF MUI untuk bertemu dan berdialog dengan Jokowi tersebut sebenarnya sudah lama diidamkan sejak aksi unjuk rasa bertajuk “Bela Islam 411” pada 4 November 2016.

“Ini perjalanan panjang, sejak 411 ingin sekali bertemu Presiden, ingin berdialog dengan Presiden tapi takdir Allah berkata lain,” katanya.

GNPF-MUI kemudian mendapat momentum kembali untuk bertemu dan berdialog dengan Presiden Jokowi, yakni pada aksi “Bela Islam 212” tanggal 12 Desember 2016. Namun perjumpaan itu rupanya kembali tidak terjadi.

“Saat aksi 212, kami bertemu dengan Presiden, tapi tidak terjadi komunikasi. Presiden hanya menyampaikan salam saja kepada peserta aksi, lalu Presiden kembali,” ujarnya.

Setelah gagal berkomunikasi untuk kali kedua, Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI ini mengaku bahwa GNPF-MUI nyaris kehilangan cara berdialog dengan Presiden.

Komunikasi setelah itu hanya sampai pada tingkat Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian atau Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto.

Titik terang komunikasi itu muncul kembali setelah GNPF MUI diterima Menkopolhukam Wiranto di kediaman dinas. Kemudian, aspirasi mereka disampaikan kepada Wiranto, yang berjanji akan menyampaikannya kepada Presiden.

“Tolong digarisbawahi bahwa kami sebenarnya ingin berdialog. Menjadikan dialog sebagai jalan solutif dengan tidak melulu menjadikan mobilisasi massa sebagai sarana untuk meminta berjumpa,” jelasnya.

Sabtu (24/6) menjadi hari yang baik. GNPF-MUI diterima oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin. Setelah itu, para pimpinan GNPF MUI juga diterima oleh Menkopolhukam. GNPF MUI diminta menunggu kabar pertemuan pada Ahad, keesokan harinya.

“Paginya (Ahad) minta izin ke Presiden, dan akhirnya Pak Presiden menerima,” ujar Bachtiar.

“Nah, apa yang disebut dengan pertemuan mendadak, kan kesannya mendadak GNPF minta ketemu Presiden, adalah salah besar. Jadi ini adalah sebuah perjalanan panjang dari 411, gagasan dari kami, kemudian ada momentum,” tuturnya.

Pertemuan yang digelar tepat di hari kemenangan umat Islam itu pun sangat hangat lantaran masih dalam suasana Lebaran.

“Karena suasana lebaran, kelihatannya cocok. Pak Presiden sedang dalam suasana membuka hati. Kami juga kemudian dalam kondisi ingin bersilaturahim dengan siapa saja dan ini sebetulnya kebutuhan kedua belah pihak untuk berdialog,” ujar Bachtiar.

“Ini saya kira keniscayaan bukan hanya satu pihak kami minta. Ini kebutuhan kedua pihak, itu kronologisnya,” imbuhnya.

Pimpinan GNPF MUI bertemu dengan Presiden Jokowi di Ruang Oval Istana Merdeka, Jakarta pada hari pertama Idul Fitri 1438 Hijriah, Ahad lalu.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden didampingi Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin.

Adapun pimpinan GNPF MUI yang hadir antara lain Dewan Pengawas Yusuf Muhammad Marta, Ketua Bachtiar Nasir, Wakil Ketua Zaitun Rusmin, juru bicara Kapitra Ampera serta pengurus lainnya, yakni Habib Muchsin serta Muhammad Lutfi Hakim.

Wakil Ketua GNPF-MUI Zaitun Rasmin mengatakan, pertemuan ini merupakan langkah awal rekonsiliasi.

“Silaturahim ini tentu harus ada tujuan-tujuannya. Ingin memperbaiki kondisi, silaturahim, meningkatkan komunikasi. Itu kan ke arah sana, ke arah rekonsiliasi,” ujar Zaitun seusai pertemuan.

KH. Bachtiar Nasir dalam melakukan konferensi pers siang ini bersama dengan para pengurus GNPF-MUI yaitu Wakil Ketua GNPF MUI Zaitun Rasmin, anggota Dewan Pembina GNPF-MUI Yusuf Matra, anggota Dewan Pembina GNPF-MUI Haikal Hasan, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Ahmad Sobri Lubis, serta Juru Bicara FPI Munarman.

Selama ini, GNPF-MUI dikenal gencar melancarkan kritik ke pemerintah, khususnya kepada Presiden Joko Widodo. Salah satunya melalui berbagai aksi unjuk rasa di Jakarta demi menindaklanjuti proses hukum mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atas perkara penodaan agama.

GNPF MUI menggerakkan massa untuk ikut dalam “Aksi Bela Islam” yang pertama digelar pada 14 Oktober 2016.

Selanjutnya muncul rangkaian Aksi Bela Islam pada 4 November 2016 yang lebih dikenal dengan aksi 411. Lalu pada 2 Desember 2012 atau 212. Berikutnya aksi 313, dan aksi 28 Maret lalu. (IwanY)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU