Penggunaan ‘Trawl’ Memicu Konflik Antar Nelayan

BENGKULU, SERUJI.CO.ID – Konflik antar-nelayan di Kota Bengkulu, Jumat (5/4) siang pecah setelah dua unit kapal nelayan tradisional dibakar yang diduga dilakukan oleh nelayan pengguna pukat harimau atau trawl.

“Yang bakar kapal itu adalah nelayan yang diduga nelayan dari Pulau Baai,” kata Kasubdit Patroli Air AKBP, Hadi Joko Susilo di Bengkulu, Jumat (5/4).

Setelah dua unit kapal tradisional itu terbakar, secara spontan puluhan nelayan dari Kelurahan Malabero menggunakan tiga kapal mendatangi para nelayan di kompleks Pelabuhan Pulau Baai, berniat balas dendam.

Aksi balasan ini membuat anggota polisi langsung melepaskan sejumlah tembakan ke udara sebagai peringatan untuk nelayan tradisional agar menahan diri dan mundur.

Mendapat tembakan dari anggota polisi, tiga kapal nelayan tradisional itu berputar arah meninggalkan Pulau Baai. Aksi ini pun memicu kemarahan nelayan di Pulau Baai yang langsung menaiki kapal dan mengejar para nelayan tradisional dari Malabero.

Pantauan di kompleks Pelabuhan Pulau Baai, puluhan anggota polisi dan TNI Angkatan Laut masih berjaga mengamankan kawasan vital tersebut.

Hadi mengatakan belum dapat memastikan apakah pembakaran ini lanjutan dari aksi pembakaran dua unit kapal nelayan pengguna trawl beberapa waktu lalu.

Sementara di kawasan perairan Pasar Palik, Kabupaten Bengkulu Utara, konflik antar-nelayan juga pecah akibat penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan trawl.

Hingga berita ini diturunkan, aksi saling kejar di tengah laut antara nelayan Malabero yang selama ini menentang penggunaan trawl dengan nelayan Pulau Baai yang diketahui secara umum masih menggunakan trawl, masih berlangsung.

Diketahui, penggunaan alat tangkap trawl telah dilarang pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pelarangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Trawl dan Seine Nets.

Sumber:Ant

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Ghazwul Fikri dan Media

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Cerita Hamzah Izzulhaq, Pengusaha di Bidang Pendidikan Yang Sukses di Usia Muda

Meski terbilang sukses di usia muda, nyatanya perjuangan Hamzah Izzulhaq tidaklah mudah.