Menko Luhut Merasa Tidak Pernah Klaim ITB Dukung Reklamasi

3
346
Menko Maritim Luhut Pandjaitan saat memberikan kuliah umum di ITB , Bandung (01/03/2017) (Foto: Twitter @kemaritiman)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menanggapi kritik yang disampaikan sejumlah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) terhadap pernyataannya yang mengesankan alumni ITB mendukung reklamasi Teluk Jakarta.

Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, Luhut mengatakan yang disampaikannya di Medan pada saat diwawancarai wartawan adalah Ridwan Djamaluddin yang menjadi Ketua Tim Kajian Reklamasi yang adalah juga Ketua Ikatan Alumni ITB.

“Saya tidak pernah mengatakan Ikatan Alumni ITB mendukung reklamasi,” tegasnya.

Luhut menyarankan sejumlah alumni ITB yang menyampaikan kritik untuk membaca kembali apa yang disampaikannya pada saat ia diwawancara oleh beberapa wartawan di Kantor Badan Otorita Pariwisata Danau Toba (BOPDT) Medan pada 6 Oktober 2017 lalu.

Berikut adalah transkrip kutipan pernyataan tersebut: “Semua itu ketuanya adalah Pak ini, mana ini Pak Ridwan ini? Pak Ridwan itu Ketua Alumni ITB, itu tim yang membuat kajian itu jadi ada (alumni) ITB, ada Bappenas, semua kementerian terkait, kemudian ada Jepang, ada Korea, ada Belanda, mau apa lagi?” Luhut meminta mereka yang berkeberatan untuk membaca lagi agar bisa menunjukkan bagian pernyataan tersebut yang mengatakan ITB mendukung reklamasi.

“Mereka kan cendekiawan, tapi mengapa membuat protes untuk hal yang ‘seakan-akan’, kalau tidak jelas maksud pernyataan saya kan bisa ditanyakan langsung kepada saya,” katanya.

3 KOMENTAR

  1. Ha…ha…ha…sakit perutku melihat “sepak terjang” pejabat yg satu ini. Entah lugu, entah…??? Bingung saya menilainya. Dan kentara sekali jika lidahnya tak bertulang.

    Sdr. Luhut Binsar, janganlah para cendekiawan itu yg Anda katakan tidak paham. Coba Anda sendiri yg kembali membaca pernyataan Anda tersebut : “….Pak Ridwan itu Ketua Alumni ITB, itu tim yang membuat kajian itu jadi ada (alumni) ITB, ada Bappenas, semua kementerian terkait, kemudian ada Jepang, ada Korea, ada Belanda, mau apa lagi?”.

    Jika masih belum paham, Anda baca berulang kali.

    Dipernyataan Anda tsb secara jelas dan gamblang mengatakan bahwa Reklamasi itu sudah dikaji oleh tim yg tidak sembarangan. Didalamnya ada ITB, Bappenas, semua kementrian yg terkait. Bahkan juga melibatkan negara2 maju seperti Jepang, Korea dan Belanda.

    Bahkan diakhir kalimat Anda mengatakan, “Mau apa lagi ?”. Ini adalah kalimat gertakkan dan tantangan. Anda berusaha menegaskan bahwa seluruh pihak yg berkompeten (dalam dan luar negeri) sudah mengkaji, meneliti, menyetuji dan mendukung.

    “Tak ada lagi yg mesti kalian persoalkan, tak ada lagi yg mesti kalian ributkan, kalian semua jangan banyak komentar lagi, semuanya sudah OK dan mendukung”, bukankah itu maksud Anda ?.

    Dan sesuatu yg sudah jelas, untuk apa lagi ditanyakan ke Anda ? Memangnya mereka kurang kerjaan ? Dan yg selalu membuat kacau serba tak jelas dalam banyak hal dinegara ini siapa ? Anda atau para cendekiawan dari ITB itu ?

    Kemudian Anda juga mengatakan bahwa pernyataan Anda diatas adalah bentuk penghargaan, merasa bangga terhadap ITB ? Ondeeehh Maaaakkk….!!! Kalimat yg menyiratkan penghargaan dan kebanggaan dalam pernyataan Anda itu yg mana Brooo…????

    Ahhh…, pusing aku ngomentarinya……Lebih baik gue baca Al-Quran…..

  2. Udh tahu pejabat publik, baiknya ngomong yg jelas. Jgn2 yang kalimat “ada jepang, belanda, korea’ cuma nebeng nama aja. Biar keliatan “wah”…

    Tapi ada yg menarik. Si doi minta klarifikasi terkait ucapannya. Hmmm… Jadi inget pembubaran HTI yang tanpa klarifikasi, asal hajar aja. Ya seperti diacara debat dua sisi itulah, dimana jubir HTI menyebut bahwa pemerintah/kemendagri asal comot data tanpa klarifikasi. Ternyata ketahuan pas face to face bahwa data dan informasi tersebut tidak benar dan dibantah jubir HTI tsb.

    KLARIFIKASI OH KLARIFIKASI #Ngeles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Beton LRT rubuh

Sandiaga: Proyek LRT Kelapa Gading-Velodrome Tidak Terhambat

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan telah mendapatkan informasi terkait ambruknya konstruksi pembangunan proyek "Light Rail Transportation" (LRT) dan menjamin...
Tolak LGBT

Fraksi PKS Perjuangkan Larangan Terhadap Perilaku LGBT

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini mengatakan pihaknya dengan tegas memperjuangkan agar Panitia Kerja RUU KUHP dapat memasukkan larangan terhadap perilaku lesbian, gay,...
Sekjen Golkar 2018

Airlangga Tunjuk Letjen Lodewijk Jadi Sekjen Golkar

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menunjuk Letjen (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus menggantikan Idrus Marham sebagai Sekjen DPP Golkar masa bakti...

Polda Sumut Ungkap Peredaran Narkotika Jaringan Sindikat Internasional

MEDAN, SERUJI.CO.ID - Polda Sumut kembali mengungkap peredaran narkotika jaringan sindikat internasional Malaysia, Aceh, Pakanbaru, dan Medan. Tiga orang tersangka terpaksa diberikan tindakan tegas...
bandar narkoba

Bandar Narkotika Jaringan Malaysia Ini Hanya Divonis 20 Tahun

MEDAN, SERUJI.CO.ID - Ali Akbar alias Dek Gam (34) warga Desa Gelanggang Teungoh, Kabupaten Biruen, lolos dari hukuman mati. Pemuda ini hanya dijatuhi hukuman...
loading...
Pariwisata Bali

Sisi Lain Pariwisata Bali

Ketika mendengar nama Bali, orang akan membayangkan pantai Kuta yang Indah dengan para bule berjemur memakai bikini. Ditengah hamparan pasir pantai yang landai dan...

Lihatlah ke Bawah, Lalu Bersyukurlah

Ambang kebahagiaan orang memang tidak sama, ada orang yang karena keterbatasan ekonomi, bisa makan nasi dengan sambal dan ikan asin saja sudah bisa merasakan...
Warok Polisi Ibukota

Sangarnya Warok-Warok Polisi Ibukota

Menyaksikan polisi sedang mengatur lalu lintas, mengamankan unjuk rasa atau mengungkap kasus kejahatan adalah hal yang lumrah. Demikian pula menyaksikan pertunjukan Reog, bukan sesuatu...