Legislator: Trotoar Kota Wates Belum Ramah Difabel


KULON PROGO, SERUJI.CO.ID – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sudarta menilai trotoar di Kota Wates belum ramah bagi pejalan kaki, khususnya difabel.

“Keberadaan trotoar di Kulon progo, terutama di Kota Wates yang merupakan layanan publik belum bisa mengakomodir hak bagi pejalan kaki. Kami banyak menemukan trotoar justru dipergunakan untuk kepentingan selain fungsinya, misalnya sebagai tempat jualan, parkir,” kata Sudarta di Kulon Progo, Ahad (4/3).

Ia mengatakan adanya penyempitan trotoar juga membuat kurang nyamannya pejalan kaki. Hal tersebut yang dikarenakan karena perkembangan kemajuan alat transportasi yang mengharuskan tersedianya jalan untuk memperlancar arus lalu lintas.

Revitalisasi trotoar yang sudah dilakukan beberapa waktu yang lalu juga belum mengakomodir untuk kaum difabel.

“Belum ada trotoar khusus difabel, dan penunjuk jalan di dalam trotoar tersebut. Harapan kami, semua jika membangun suatu layanan publik seyogyanya juga mengakomodir semua kepentingan warga,” harap politisi muda Partai Persatuan Pembangunan ini.

Wakil Ketua DPRD Kulon Progo Ponimin Budi Hartono mengatakan trotoar di Kota Wates dan sekitarnya terkesan tidak ramah untuk difabel. Masyarakat bisa melihat, sebagian besar trotoar di kawasan Kota Wates dan rusak. Trotoar kebanyakan digunakan untuk berjualan pedagang kaki lima.

Selain itu, perkantoran di lingkungan Pemkab Kulon Progo dan perkantoran organisasi perangkat daerah (OPD).

“Kami berharap kantor pelayanan umum dan perkantoran segera dilengkapi fasilitas untuk difabel. Jangan sampai, Kulon Progo dijuluki kabupaten tidak ramah difabel. Kami juga berharap PKL yang berjualan di trotoar ditertibkan dan ditata,” harapnya. (Ant/Su02)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Bantahan Survei Kompas, Filsafat Ilmu dan Kisah Angsa Hitam

Cara saya berterima kasih kepada Kompas justru memujinya ketika benar dan mengkritiknya ketika salah. Dan saya berkesimpulan dengan ilmu yang saya pelajari, Kompas telah salah menarik kesimpulan dalam publikasi surveinya di bulan Maret 2019.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close