KY: Empat Isu Menjadi Fokus Dalam RUU Jabatan Hakim

KENDARI, SERUJI.CO.ID – Ketua Komisi Yudisial (KY) Aidul Fitriciada Azhari mengatakan terdapat empat isu terkait jabatan hakim yang kemudian menjadi fokus dalam Rancangan Undang Undang Jabatan Hakim (RUU JH).

“Ada beberapa isu yang muncul yang menjadi fokus dalam RUU Jabatan Hakim,” kata Aidul di Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (10/3).

Aidul mengatakan hal tersebut dalam acara Temu Nasional Forum Dekan dan Ketua STIH terkait kajian hukum Rancangan Undang Undang Jabatan Hakim.

Isu pertama yang dibahas dalam RUU JH terkait dengan kedudukan dan status hakim yang dinilai seharusnya bukan lagi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) namun sebagai pejabat negara, mengingat status hakim sebagai PNS tentu menjadikan posisi hakim kurang independen karena berada di bawah kekuasaan eksekutif.

Yang menjadi permasalahan, kata Aidul, adalah pejabat negara hanya dimungkinkan bila dia dipilih seperti DPR, bupati, atau gubernur.

“Atau yang bersangkutan melalui seleksi atau ditunjuk, selain itu pejabat negara merupakan jabatan terbatas,” kata Aidul.

Isu yang kedua terkait dengan usia pensiun hakim yang hingga saat ini dinilai KY masih belum jelas, karena ada yang menghendaki supaya usia pensiun hakim diturunkan namun ada yang menghendaki supaya dinaikkan.

“Ketiga terkait dengan sistem satu atap yang saat ini dijalani oleh Mahkamah Agung,” kata Aidul.

Usulan untuk adanya pembagian tanggung jawab (shared responsibility) antara KY dengan MA, menurut Aidul, masih belum dapat diterima oleh pihak MA karena dinilai akan merusak sistem satu atap yang berada di bawah MA.

“Kami justru ingin mengatakan sistem dua atap ini tidak akan merusak sistem satu atap karena pada dasarnya KY bagian dari kekuasaan kehakiman, bukan eksekutif,” kata Aidul.

Isu yang terakhir terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 6 Tahun 2005 yang mengatakan hubungan antara MA dan KY merupakan kemitraan yang harus ada pembagian tanggung jawab.

“Dua lembaga ini tidak boleh saling menegasi tapi harus bersinergi,” pungkas Aidul. (Ant/SU01)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan Untuk Merdeka

Pada saat pemimpin Jepang sudah memvisikan sebuah masyarakat baru Society 5.0, apakah kita saat ini, sebagai bangsa, sebagai ummat, berada pada jalur yang benar menuju puncak kejayaan menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur, serta cerdas?

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER