Kepala Lapan: Jatuhnya Tiangong-1 Tidak Bisa Dicegah

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan jatuhnya stasiun luar angkasa milik China bernama Tiangong-1 tidak dapat dicegah hanya perlu diwaspadai potensi bahayanya.

“Tidak bisa dicegah. Yang bisa dilakukan hanya memantau dan mengantisipasi potensi bahayanya,” kata Thomas di Jakarta, Ahad (11/3).

Ia menegaskan kemungkinan untuk jatuh ke pemukiman sangat kecil. “Jadi jangan berandai-andai yang berpotensi meresahkan,” kata Thomas.

Terkait sisa bahan bakar Tiangong-1 yang masih tersisa, ia mengatakan bahan bakar roket kendali dari stasiun atau pesawat luar angkasa memang berisi Hydrazine dan biasanya tersimpan pada tabung yang sangat kuat.

Thomas menyebutkan kemungkinan tabung tersebut tidak habis terbakar saat jatuh memasuki atmosfer bumi.

“Hydrazine memang sangat beracun, jadi itu salah satu objek yang harus diwaspadai kalau masih tersisa di tabungnya saat jatuh,” lanjut Thomas.

Ia mengatakan pihaknya terus memantau jatuhnya stasiun luar angkasa China Tiangong-1 yang diprediksi badan keantariksaan berbagai negara akan mencapai bumi dalam hitungan beberapa minggu ke depan.

Meski demikian, Thomas mengatakan ketidakpastian waktu dan lokasi serpihan stasiun luar angkasa berbobot 8,5 ton tersebut menghantam bumi masih besar. Karenanya hingga kini LAPAN belum memberikan penjelasan kepada publik.

Ia menambahkan kejatuhan objek antariksa sudah beberapa kali terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Baca juga: Lapan Pantau Jatuhnya Stasiun Luar Angkasa Tiangong-1 ke Bumi

Meski demikian Profesor Riset Astronomi-Astrofisika itu mengatakan probabilitas jatuhnya wahana antariksa milik China yang sudah lepas kendali sejak 2016 ke pemukiman sangat kecil. Namun demikian, masyarakat tetap perlu memiliki kewaspadaan.

Menurut dia, semua negara antara lintang 43 derajat utara sampai lintang 43 selatan berpotensi terkena serpihan Tiangong-1, termasuk Indonesia. Namun karena wilayah yang tidak berpenghuni seperti lautan, hutan dan gurun jauh lebih luas dari wilayah pemukiman maka dirinya menegaskan probabilitas jatuh di wilayah pemukiman sangat kecil. (Ant/SU05)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER