JICA Kucurkan Pinjaman Lunak untuk Pelabuhan Patimban dan UGM

0
97
Menkeu Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama Chief Representative JICA Indonesia Naoki Ando, di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (14/11/2017). (Foto: Achmad/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menandatangani naskah perjanjian pinjaman (loan agreements) sejumlah JPY 127,215 miliar atau setara USD 1,12 miliar atau Rp 15,2 triliun.

Pinjaman tersebut untuk membiayai pembangunan pelabuhan Patimban fase I dengan nilai JPY 118,906 miliar atau setara Rp 14,3 triliun.

Kementrian Perhubungan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU Pera) akan memanfaatkan pinjaman tersebut untuk mengembangkan pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat. Pelabuhan ini akan difungsikan untuk pusat logistik bertaraf internasional.

Pinjaman pertama akan dimanfaatkan untuk membangun jalan akses sepanjang 8,1 Km, terminal baru, jembatan dan back-up area pelabuhan. Pelabuhan ini nantinya akan menjadi alternatif bagi industri di area sekitar untuk memperkuat aktivitas ekonomi dan jaringan logistik kelautan di wilayah metropolitan Jakarta.

“Pelabuhan baru Patimban ditargetkan soft opening Maret 2019,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, di kantor ‎Kemenkeu, Jakarta, Rabu (14/11).

Selain itu, pinjaman tersebut juga untuk membiayai pengembangan World Class University with Entrepeneurial Spirit di Universitas Gajah Mada (UGM) dengan nilai ‎JPY 8,309 miliar atau setara Rp 900 miliar. UGM akan memanfaatkan dana tersebut untuk membangun 10 learning centers di Yogyakarta dalam rangka memperkuat aktivitas pengembangan dan riset.

“Gedung yang akan dibangun akan dilengkapi dengan peralatan mutakhir untuk kepentingan pendidikan dan riset,” ujar Sri Mulyani.

Skema pembiayaan ini memanfaatkan fasilitas Special Terms for Economic Partnership (STEP) dari JICA. Tingkat bunga 0,1 persen per tahun dengan masa tenggang 12 tahun dan masa pembayaran kembali 28 tahun. Dengan demikian, jangka waktu pinjaman adalah 40 tahun.

Sri Mulyani menjelaskan, pembiayaan untuk pengembangan World Class University with Entrepeneurial Spirit ini bersifat penjaman lunak tidak mengikat dengan bunga floating sebesar JPY LIBOR +10 basis point per tahun atau dengan lower cap 0,1 persen dan upper cap 6,521 persen.

“Massa tenggang (grace periode) pinjaman ini selama 7 tahun dan masa pengembalian 18 tahun, sehingga jangka waktu pinjaman adalah 25 tahun,” jelas Sri Mulyani.

Sekedar informasi, pemerintah Jepang telah memberikan bantuan pinjaman lunak ke Pemerintah Indonesia sejak 1958. Hingga Oktober 2017 dan sebelum kedua pinjaman tersebut ditandatangani, Pemerintah Indonesia ‎telah memiliki 31 pinjaman kegiatan on-going yang berasal dari pemerintah Jepang melalui JICA dengan nilai komitment sebesar JPY 565,75 Miliar atau setara USD 5,1 miliar atau Rp 69 triliun. (Achmad/SU02)

Loading...
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama