IPW: Melecehkan Profesi Wartawan Bisa Kena Sanksi Hukum

JAKARTA – Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengecam sikap oknum Brimob yang arogan terhadap wartawan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara Ricky Prayoga di sekitar lokasi turnamen Bulutangkis Indonesia Terbuka 2017, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Ahad (18/6).

“Kasus ini menunjukkan bahwa anggota Brimob itu masih mengedepankan sikap arogan dan tidak menyadari fungsinya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat,” kata Neta dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/6).

Menurut Neta, masih banyak polisi yang tidak memahami fungsi dan tugas wartawan yang dilindungi UU 40/1999 tentang Pers.

“Padahal sikap melecehkan profesi wartawan bisa dikenakan sanksi hukum seperti yang tertuang dalam UU Pers,” tukasnya.

Menurutnya, hal mendesak harus dibenahi Polri adalah di dalam pendidikan kepolisian, terutama pendidikan untuk polisi tingkat bawah.

“Sudah waktunya dijelaskan keberadaan fungsi dan tugas wartawan yang dilindungi undang-undang, sehingga wartawan tidak bisa diperlakukan semau gue saat menjalankan tugas jurnalistiknya,” ujarnya.

Dengan adanya kasus ini, kata Neta, sudah saatnya pimpinan kepolisian mengevaluasi semua penugasan anggotanya di lapangan. Artinya, polisi yang bersikap arogan dan cenderung menggertak masyarakat dengan senjata api harus dilarang bertugas yang bersentuhan dengan publik terutama wartawan.

“Bila perlu, polisi seperti itu diberhentikan dari kepolisian karena bertentangan dengan prinsip polisi sipil yang profesional dianut Polri,” pungkasnya.

Sebelumnya, wartawan LKBN Antara Ricky Prayoga mengalami tindak kekerasan oleh sejumlah oknum Brimob saat akan meliput ajang kejuaraan bulu tangkis Indonesia Terbuka 2017 di Jakarta Convention Centre (JCC), Ahad (18/6).

Tindak kekerasan tersebut terekam video yang kemudian menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut terlihat korban dibekap dan ditarik oleh beberapa oknum Brimob untuk dibawa ke suatu tempat. Padahal, korban masih mengenakan “ID card” peliput kejuaraan bulu tangkis Indonesia Terbuka tersebut. (IwanY)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Bagaimana Kalau Prabowo Kalah Lagi?

Terpilih kembali atau tidaknya petahana adalah sebuah hal yang wajar di alam demokrasi. Karena tujuan dari pesta demokrasi, atau yang kita sebut Pilpres ini, adalah untuk mengukur kepuasan dan ketidakpuasan pada petahana.

Najmul Akhyar

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER