Heboh Soal Telur Naik: Mendag Tuding Piala Dunia, Mentan Sebut Karena Musim Haji

0
230
  • 187
    Shares
Telur ayam naik
Pedagang telur ayam di pasar Banjar dengan dagangannya, Jumat (20/7/2018). (foto:Dede G/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Harga telur yang naik tinggi belakangan ini, sampai menyentuh Rp30 ribu perkilogram jadi perbincangan di tengah masyarakat. Bukan hanya karena tingginya harga telur tersebut dibanding biasanya yang hanya 19-22 ribuan perkilogram, tapi kehebohan muncul karena pernyataan Menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi.

Menteri Perdagangan, Enggartriasto Lukita, saat dikonfirmasi mengenai kenaikan harga telur ini mengatakan bahwa kenaikan harga telur terkait dengan berlangsungnya Piala Dunia 2018 di Rusia.

Selama gelaran sepakbola dunia itu, kata Enggar, permintaan telur memang meningkat, sebagai makanan instan untuk menemani bergadang sambil menonton sepakbola.

Loading...

“Karena tengah malam itu (makan) nasgor (nasi goreng) pakai telor; internet, Indomie telur, dan kornet, pakai telur juga. Saya dulu pernah menyelinap, ada fresh telur langsung kita ambil bikin nasgor,” kata Enggar di Jakarta. Senin (16/7).

Pernyataan Enggar itu mendapat kecaman berbagai kalangan, karena diaggap tidak logis dan terkesan hanya mencari-cari alasan, di tengah kenaikan harga telur.

Tidak berapa lama kemudian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut kenaikan harga telur ayam yang menyentuh sampai Rp30 ribu per kilogram disebabkan karena adanya musim haji.

“Kenaikan harga telur ini cuma sementara, karena memang bersamaan dengan musim haji,” kata Amran saat berkunjung ke Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (17/7).

Menurut Arman, kenaikan tersebut hanya bersifat sementara, dan ia memprediksi dalam waktu tidak terlalu lama akan turun kembali.

“Naik sedikit. Sekali-kali naik sedikit lah. Palingan seminggu ini sudah stabil kembali,” ujarnya.

Pernyataan Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian tersebut dibantah oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo) yang daerahnya dikenal sebagai sentra penghasil telur.

Menurut Pakde Karwo, kenaikan harga telur lebih disebabkan karena terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini.

Kenaikan nilai tukar tersebut, kata Pakde, berimbas pada kenaikan harga pakan ternak seperti ayam.

“Dampak dari kenaikan harga pakan tersebut membuat biaya produksi tinggi sehingga produsen telur menaikkan harganya,” kata Soekarwo usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Senin (16/7).

Soekarwo menjelaskan, makanan ternak yang digunakan para peternak saat ini masih impor salah satunya dari Thailand. Sementara saat ini, nilai dolar terus naik sehingga mengakibatkan harga pakan ternak ikut naik.

“Ketika kita impor dan harga dolarnya naik, maka otomatis harganya ikut naik. Sekali lagi kenaikan harga telur ini bukan karena faktor cuaca tapi karena harga pakan naik,” tegas Pakde. (ARif R/Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU