GNPF-MUI Berharap Hubungan Dengan Pemerintah Cair Pasca Lebaran

6
198
gnpf-mui
Presiden Jokowi menerima kedatangan Pengurus GNPF-MUI dalam rangka silahturahim Hari Raya Idul Fitri, pada Ahad, 25/6/2017. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo menerima kedatangan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir beserta pengurus lainnya dalam rangka silahturahim Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah.

Dalam menerima pengurus GNPF-MUI ini, Presiden didampingi Menko Polhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Sedangkan di pihak Bahtiar Nasir yang didampingi pengurus lainnya, diantaranya M Kapitra Ampera (Tim Kuasa Hukum GNPF-MUI), Yusuf Muhammad Martak, Muhammad Lutfi Hakim, Habib Muhsin Alatas (Ketua Umum FPI), ustaz Muhammad Zaitun Rasmin (Wakil Ketua GNPF MUI) dan Deni. Mereka diterima Presiden di Istana Merdeka sekitar pukul 12.50 WIB dan keluar sekitar 13.20 WIB.

Loading...

Pengurus Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) berharap agar hubungan kelompoknya dengan pemerintah dapat mencair usai Hari Raya Idul Fitri.

“Kami diterima Presiden dalam rangka silaturahim halal-bihalal hari raya Idul Fitri dan bagi kami, ini kesempatan dalam rangka momen halal-bihalal ini, hal-hal yang selama ini menjadi harapan kami jadi lebih cair suasananya karena terkait dengan suasana lebaran, beda dengan suasana demo,” kata Bachtiar Nasir di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, dilansir dari Antara, Ahad (25/6).

Dalam pertemuan itu, Presiden, menurut Bachtiar menceritakan mengenai sejumlah program kerjanya.

“Presiden mengemban amanat yang cukup berat dan berusaha menjalankan setiap program-programnya dengan berbagai macam cara pandang, ada yang suka dan tidak suka,” katanya.

Presiden, lanjutnya, juga mengutarakan keharusan konsisten dalam program yang dijalankannya dan harus berani mengambil risiko itu.

“Kami mendapatkannya keberpihakan beliau untuk ekonomi kerakyatan adalah hal yang cukup bagus adalah bagaimana kita dengar sekian belas juta hektar tanah diperuntukkan untuk masyarakat,” katanya.

Meski demikian, Bachtiar mengaku belum ada hal teknis yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Pertemuan tersebut menurut dia merupakan ajang silaturahim sekaligus membangun komunikasi untuk mencairkan suasana.

“Alhamdulilah cair sekali dan kami mulai saling mengerti dan memahami, teknis belum dibicarakan,” tambah Bachtiar.

Pengurus GNPF-MUI Muhammad Lutfi Hakim yang ikut dalam silaturahim tersebut mengakui bahwa sebelumnya ada praduga antara Presiden dan GNPF-MUI yang menghalangi komunikasi.

Melalui silaturahim tersebut, menurut dia, berbagai praduga yang terbangun bisa lebur, sehingga mengetahui masing-masing pemikiran dan aspirasi yang dibawa.

“Kami sepakat ke depan akan komunikasi lebih intensif lagi. Pemerintah dengan umat Islam juga tidak dalam suatu situasi berhadap-hadapan dalam konteks kebhinekaan, Pancasila, atau pun NKRI. Pak Presiden tidak memandang umat Islam seperti itu dan suasana itu yang ingin kita pelihara,” kata Lutfi.

Sebelumnya Menteri Sekretaris Negara Pratikno menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo menerima rombongan GNPF-MUI karena pada Idul Fitri, Presiden membuka silaturahim ke semua pihak.

“Alasan mendasar bagi Presiden menerima karena sekali lagi, ini tadi acara Idul Fitri, ‘open house’. Jadi beliau menerima siapapun yang memang ingin untuk bersilaturahim, termasuk beliau-beliau ini,” kata Pratikno. (IwanY)

loading...

6 KOMENTAR

  1. Senang klau ulama dan umaro bisa berdampingan. Karena tugas keduanya sama2 membangun. Umaro membangun ekonomi rakyatnya, ulama membangun jiwa rakyatnya. Ulama dan umaro harus bergandengan tangan demi kejayaan Indonesia tercinta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU