F-PKS Kecewa Uji Materi Pasal Kesusilaan Ditolak MK

0
72
Jazuli Juwaini
Anggota Komisi I DPR RI, Jazuli Juwaini. (Foto: Herdi/SERUJI)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini mengaku kecewa dan menyayangkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang tidak mengabulkan permohonan uji materi pasal kesusilaan dalam KUHP.

“Padahal materi pemohon berangkat dari realitas nyata perilaku asusila dan amoral yang semakin marak dan mengancam masa depan generasi bangsa dan jelas tidak sesuai dengan karakter kebangsaan Indonesia yang beradab, bermartabat dan relijius sesuai Pancasila dan UUD 1945,” kata Jazuli di Jakarta, Jumat (15/12).

Dia menilai permohonan itu adalah upaya mengokohkan kebangsaan yang beradab, bermartabat, dan relijius sesuai Pancasila dan UUD 1945 sebagai nilai-nilai luhur bangsa.

Seharusnya menurut dia, hal itu menjadi bagian dari tanggung jawab masyarakat untuk menjaga moral, karakter dan identitas bangsa.

“Saya menilai apa yang dimohonkan sejatinya sangat konstruktif bagi hukum positif yang berlaku khususnya terkait kesusilaan yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan lingkungan sosial dan problematika yang ada. Apalagi ini menyangkut moral dan karakter bangsa,” ujarnya.

Jazuli mempertanyakan bagaimana bangsa ini membiarkan perzinahan atau “kumpul kebo” tidak bisa dituntut hukum padahal moralitas universal jelas tidak membenarkan dan efek negatifnya juga nyata bagi lingkungan sosial dan masa depan keluarga Indonesia.

Hal itu dikatakannya terkait permohonan pemohon yang meminta agar Mahkamah mengafirmasi hukuman bagi perzinahan pada Pasal 284 KUHP yaitu mencakup hubungan badan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan suami istri alias kumpul kebo dapat dijerat dengan pidana.

“Perilaku perzinahan atau ‘kumpul kebo’ juga bisa menjadi ‘pintu maasuk” ke kejahatan seksual dan pelecehan,” katanya.

Jazuli juga menyoroti terkait permohonan pemohon juga meminta Mahkamah mengafirmasi hukuman bagi perbuatan pencabulan pada Pasal 292 KUHP berlaku juga bagi sesama jenis baik dilakukan oleh sesama orang dewasa, oleh orang dewasa dengan anak-anak, maupun dilakukan oleh sesama anak kecil.

Hal itu menurut dia adalah upaya pencegahan terhadap perilaku lesbian, gay, biseksual, dan trans-gender (LGBT) yang jelas tertolak menurut Pancasila dan Konstitusi Negara UUD 1945.

“Kita tidak ingin perilaku menyimpang dan penyakit sosial itu semakin marak dan merusak masa depan bangsa kita. Disana ruh dan semangatnya,” ujarnya.

Permohonan objektif

Anggota Komisi I DPR itu mengatakan, melihat materi permohonan tersebut, permohanan uji materi sangat rasional, objektif, dan konstitusional. Selain itu menurut dia, dalil-dalil yang disampaikan menjadi problem sosial dan ancaman yang nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Upaya ini untuk mencegah meluasnya berbagai penyimpangan, kejahatan seksual dan penyakit sosial yang merusak masa depan genarasi bangsa. Uji materi dimaksudkan untuk melindungi anak-anak, menjaga ketahanan keluarga, dan mengokohkan kebangsaan yang beradab, bermartabat, dan relijius sehingga Mahkamah seharusnya menerimanya,” katanya.

Jazuli menilai putusan MK tersebut tidak boleh membuat masyarakat surut dalam menjaga moralitas dan mengokohkan karakter bangsa dan Fraksi PKS akan terus berjuang untuk menjaga moralitas bangsa dengan regulasi yang terhubung dengan Konstitusi dan Dasar Negara antara lain melalui lewat pembahasan RUU KUHP yang saat ini sedang dibahas di DPR.

Sebelumnya, MK menolak permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), ketiga pasal tersebut mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan.

Permohonan uji materi Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 KUHP dalam perkara nomor 46/PUU-XIV/2016 diajukan oleh Guru Besar IPB Euis Sunarti bersama sejumlah pihak.

Sementara dalam gugatannya pemohon meminta pasal 284 tidak perlu memiliki unsur salah satu orang berbuat zina sedang dalam ikatan perkawinan dan tidak perlu ada aduan.

Terkait pasal 292, pemohon meminta dihapuskannya frasa “belum dewasa”, maka semua perbuatan seksual sesama jenis dapat dipidana. Selain itu, homoseksual haruslah dilarang tanpa membedakan batasan usia korban, baik masih belum dewasa atau sudah dewasa.

Dalam pertimbangannya, MK menjelaskan, pada prinsipnya permohonan pemohon yang meminta MK memperluas ruang lingkup karena sudah tidak sesuai dengan masyarakat, sehingga mengakibatkan pada perubahan hal prinsip atau pokok dalam hukum pidana dan konsep-konsep dasar yang berkenaan dengan suatu perbuatan pidana. (Ant/SU02)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Polisi Tangkap Pengemudi Ojek Online Lakukan Pencabulan

KUTA, SERUJI.CO.ID - Kepolisian Sektor Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, berhasil membekuk tersangka, Basid (19) yang bekerja sebagai pengemudi ojek online karena melakukan pencabulan...

Gregoria Mariska Berhasil Taklukkan Perancis

BANGKOK, SERUJI.CO.ID - Gregoria Mariska dapat menyelesaikan tugasnya sebagai pembuka kemenangan pada pertandingan penyisihan Grup D Piala Uber melawan Perancis di Impact Arena, Bangkok,...

Peternak Lele Terima Bantuan Empat Kolam Bioflok

BATURAJA, SERUJI.CO.ID - Peternak lele di Kelurahan Talang Jawa, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan menerima bantuan empat kolam bioflok guna mendukung budi daya...

Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Ketegangan Geopolitik

NEW YORK, SERUJI.CO.ID - Harga minyak dunia meningkat pada akhir perdagangan Senin (21/5) waktu setempat (Selasa pagi WIB), karena beberapa ketegangan geopolitik tentang Iran dan...
bus

Damri Sediakan Bus Mudik Gratis Mataram-Surabaya

MATARAM, SERUJI.CO.ID - Perum Damri menyediakan dua unit bus rapid transit atau BRT untuk mengangkut sebanyak 90 pemudik secara gratis dari Mataram, Nusa Tenggara...