Dinilai Melakukan Kebohongan dan Provokasi, Editorial MetroTV Layak Dipolisikan

3
895
  • 223
    Shares
Suryo Paloh dan Ahok
Pemilik MetroTV Surya Paloh saat bersama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Timur Afif Amrullah mengajak pemirsa televisi aktif melaporkan ke KPI bila mendapati media melanggar kode etik siaran, seperti mencampurkan fakta dan opini.

“Saat media telah mencampurkan fakta dan opini artinya media itu melanggar kode etik siaran. Jika ada tayangan yang bernilai provokatif maka rakyat bisa melakukan pengaduan hingga KPI (bisa) melakukan tindakan berupa sanksi dari teguran hingga penghentian program,” papar Afif dalam Dialog Ranah Publik Suara Muslim Radio Network, Rabu (6/12), menyikapi tayangan Editorial Media Indonesia di Metro TV dengan tema “Meneladani Toleransi Sang Nabi”, yang menjadi kontroversi ditengah masyarakat.

Dia menyebut editorial tersebut bersinggungan dengan dua hal, pertama, tayangan yang bernilai agama seperti terlihat dari judul yang dibahas, ada unsur Maulid Nabi dan gambar aksi 212. Kedua, bernilai jurnalistik.

“Dari sudut agama bisa melecehkan satu golongan dan dari sudut jurnalistik kalau tidak bisa memberikan fakta dari apa yang disampaikan, akan masuk kepada penyebaran berita bohong, fitnah, tidak berimbang, dan tidak adil, serta menghasut,” terangnya.

Afif menilai bahwa industri televisi dan pers saat ini adalah industri yang sudah memiliki kepentingannya masing-masing dan punya agenda untuk menggiring opini publik.

“Netralitas dalam jurnalistik menjadi ambigu saat satu fakta dengan fakta yang lain dilihat dari jurnalis dan media yang berbeda,” ujarnya.

Langganan berita lewat Telegram
loading...
1
2
3
Loading...
BACA JUGA

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU