Cak Nun: Persoalan Utama Indonesia, Nasionalisme Versus Keserakahan

355
Cak Nun dan menteri perdagangan saat penutupan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2017.

JAKARTA – Budayawan Emha Ainun Najib yang akrab dipanggil Cak Nun menerangkan, ada dua jenis orang China, yaitu China Benteng dan China Toko. Cina Benteng adalah orang-orang China yang telah menyatukan dirinya dengan Indonesia dan memiliki kecintaan dan nasionalisme kepada tanah air Indonesia. Sedangkan China Toko adalah orang-orang China yang entah berada di manapun, termasuk di Indonesia konsentrasi utamanya mencari laba.

“Jadi persoalan utamanya adalah nasionalisme versus keserakahan. Tak ada hubungannya dengan etnis, agama, atau warna kulit. Karenanya hal itu juga bisa terjadi pada pribumi sekaligus,” tegas Cak Nun saat acara penutupan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan  2017 yang diselenggarakan pada 21-22 Februari 2017 di Ballroom Hotel Borobudur Jakarta.

Di depan Menteri Enggartiasto Lukito dan para peserta yang tugas utamanya mendampingi para pengusaha ini, Cak Nun mengajak semuanya untuk tidak rakus, tidak serakah, dan tidak usah mengalahkan siapapun. Tidak ada mengalahkan orang lain, yang ada adalah mengalahkan diri sendiri.

Sejurus dengan itu, Cak Nun mengingatkan agar di dalam menjalankan pembangunan, kita tidak menghabiskan semua anugerah kekayaan yang dimiliki alam dan bangsa Indonesia.

“Kita adalah infrastruktur anak cucu kita….,” tegas Cak Nun.

Lebih jauh lagi, Cak Nun menyampaikan bahwa waktu Pak Enggar tidak banyak untuk melakukan langkah-langkah yang tepat bagi masa depan Indonesia. Seluruh reformasi dan hal-hal baik yang sudah dilakukan di Kemendag ini harusnya dicatat dan dinaikkan oleh lembaga negara menjadi undang-undang, sehingga nanti kalau Enggartiasto sudah tidak menjabat menteri, aturan itu tetap dilaksanakan oleh menteri selanjutnya.

“Tiga hingga sepuluh tahun ke depan adalah gerbang bagi bangsa Indonesia untuk melesat ke kesesatan atau ke masa depan yang lebih baik,” ungkap Cak Nun menandaskan.

Sampai titik ini, Cak Nun telah menorehkan beberapa butir pangeling akan keadaan Indonesia dan apa-apa yang perlu dilakukan. Diskontinuitas kepemimpinan, saling berjalan sendiri-sendirinya setiap elemen atau golongan masyarakat, belum adanya pemilahan antara negara dan pemerintah, dan belum sinergisnya antar kementerian di Indonesia maupun di antara kelompok-kelompok masyarakat.

Ziro’ah (pertanian), shina’ah (teknologi), dan tijaroh (perdagangan) adalah tiga terminologi dan konsep yang dapat dipakai untuk melihat Indonesia. Alih-alih sinergi, yang terjadi misalnya adalah pertanian dimakan oleh tijaroh. “Kementerian tijaroh harus sinergis dengan kementerian ziroah dan shina’ah,”pesan Cak Nun.

Satu hal yang dipesankan Cak Nun beyond mainstream pemikiran politik modern di Indonesia. Untuk menjawab persoalan Indonesia saat ini, berlangsungnya negara, pemerintahan, dan berbagai ekspresi masyarakat hendaknya tidak melupakan orang-orang tua dan selalu meminta pertimbangan mereka. Yakni orang-orang tua yang mereka memiliki wawasan, pengetahuan, dan kebijaksanaan akan masa lalu dan masa depan. Merekalah para Punakawan yang kaweruh-nya sangat diperlukan. Saat ini yang bergulir adalah setiap kelompok berjalan sendiri serta membela kepentingan masing-masing. Bagaikan anak-anak di sebuah rumah yang tanpa orangtua.

EDITOR: Yus Arza

 

 

 

 

 

loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama