Bermaknakah Peringatan Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI?

1
115
G30S/PKI
Presiden Jokowi dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo serius menyaksikan film "Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI di Makorem Bogor, Jumat, 29/9/2017. (Foto: Dok Kodam III/Siliwangi)

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Belasan perwira menengah umumnya kolonel dari berbagai negara sahabat yang merupakan atase pertahanan negara-negara asing berdiri tegak sambil bersikap sempurna memberikan penghormatan saat diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Minggu (1/10).

Sementara itu, ratusan pelajar mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA serta anggota Pramuka juga memberikan penghormatan kepada lagu Indonesia Raya dan Bendera Kebangsaan Merah Putih.

Kemudian tak kurang dari Presiden Joko Widodo yang didampingi Ibu Iriana Widodo serta Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla yang disertai Ibu Mufidah Kalla melakukan hal serupa.

Pemandangan yang menyentuh hati itu muncul pada saat acara memperingati Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2017 untuk mengenang terjadinya pemberontakan terhadap dasar negara Pancasila yang dilancarkan Partai Komunis Indonesia alias PKI pada tanggal 30 September 1965.

Pada 52 tahun lalu, PKI yang didukung segelintir oknum anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)_secara diam-diam berusaha melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia yang sah dengan melakukan kudeta.

Beberapa prajurit terbaik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) harus kehilangan nyawa setelah diculik dan kemudian disiksa oleh anggota-anggota PKI yang kemudian dibunuh dengan cara di luar prikemanusiaan. Mereka itu antara lain adalah Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Sutoyo, Jenderal S Parman, Jenderal DI Pandjaitan, perwira polisi Sasuit Tubun.

Tak ketinggalan Ade Irma Nasution yang merupakan putri kedua Jenderal Abdul Haris Nasution juga harus merelakan nyawanya setelah para pemberontak itu gagal menculik dan membunuh jenderal senior tersebut. Sementara itu, di Yogyakarta, sedikitnya dua kolonel TNI-AD juga harus kehilangan nyawa mereka.

Peristiwa pemberontakan itu memang sudah lama sekali terjadinya yaitu 52 tahun lalu. Tapi pertanyaannya adalah kenapa peristiwa bersejarah itu tetap diperingati oleh seluruh rakyat dan pemerintah Indonesia? Bahkan Presiden Joko Widodo pada hari Jumat (29/9) malam turut menonton film “Gerakan 30 September/ Partai Komunis Indonesia di halaman Markas Komando Resor Militer atau Korem 61/Suryakencana, Bogor Jawa Barat. Acara nobar alias nonton bareng Kepala Negara itu menjadi menarik perhatian karena Kepala Negara yang tak didampingi satu menteri pun atau pejabat negara.

Nobar mantan wali kota Solo dan juga mantan gubernur DKI Jakarta itu mencuri perhatian masyarakat karena baru-baru ini Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)di Jakarta mengadakan sebuah acara yang kemudian didemonstrasi oleh tidak kurang dari 1.500 orang karena diskusi itu diduga keras ingin berusaha membangkitkan kembali partai terlarang yang telah dibubarkan puluhan tahun silam.

Yang aneh dari penyelenggaraan diskusi itu ialah kenapa temanya sampai harus “diganti” oleh panitia penyelenggara kalau memang tidak ingin membicarakan soal partai komunis? Selain masalah penyelenggaraan diskusi yang dinyatakan polisi belum memperoleh izin Polri, ternyata ada hal lain yang mengakibatkan masalah PKI ini menjadi topik bidang politik yang menarik perhatian masyarakat luas. Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memerintahkan ratusan ribu prajurit TNI untuk nonton bareng film tentang pemberontakan itu.

Banyak sekali orang yang sudah merasa dirinya sebagai tokoh masyarakat. Jagoan partai politik yang mempertanyakan atau bersifat negatif terhadap perintah Jenderal Gatot Nurmantyo itu. Dalih mereka pada umumnya adalah kenapa masih harus ada kewajiban nonton bareng padahal PKI sudah lama sekali dibubarkan.

Ternyata perintah Panglima itu secara tidak langsung diterapkan oleh berbagai kelompok masyarakat termasuk Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpin langsung Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan yang juga merupakan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Kehadiran Jokowi di halaman Korem 61 Suryakencana di Bogor itu seharusnya sudah menjadi peringatan bagi orang-orang yang hingga detik itu menentang pemutaran kembali film “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” bahwa pemerintah tetap bertekad untuk mengenang pemberontakan orang- orang komunis tersebut. Bahkan Presiden Jokowi juga menyatakan bahwa film itu layak ditonton oleh bangsa ini agar orang-orang Indonesia tetap bisa mengetahui tentang PKI.

1
2
BAGIKAN
loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

Danau Toba

KemenPURR Anggarkan Rp 800 Miliar untuk Danau Toba dan Pulau Samosir

DELI SERDANG, SERUJI.CO.ID - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menganggarkan Rp 800 miliar hingga 2019 untuk membangun jalan menuju Danau Toba dan Pulau...
Besiktas - 2017

Besiktas Masuk ke Putaran 16 Besar Liga Champions Untuk Pertama Kalinya

ISTANBUL, SERUJI.CO.ID -  Juara Turki Besiktas mencapai putaran 16 besar Liga Champions untuk pertama kalinya ketika mereka bangkit dan bermain imbang 1-1 dengan tamunya Porto,...
Kapuspenkum Kejagung M Rum

Kejagung: Pembobol Kredit Bank Mandiri Segera Disidangkan

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kejaksaan Agung menyatakan tersangka pembobolan kredit PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp 201,098 miliar, MS alias HP atau Aping dan EWL, segera...

KANAL WARGA TERBARU

skripsi

Ingin Tulisan “WARGA SERUJI” Dibaca Banyak Pengunjung? Cobalah Trik Ini

SERUJI.CO.ID - Untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan membuat pembaca selalu menanti tulisan-tulisan anda di kanal "WARGA SERUJI", saya coba berikan sedikit petunjuk...
follow-leader

Menjadi Seorang Pemimpin

Seorang leader/pemimpin harus memiliki jiwa melayani. Pemimpin yang baik berasal dari pengikut yang baik. Cara menjadi pengikut yang baik adalah dengan mendengar, menjadi seorang...

KAPAN PEMIMPIN HARUS DIPATUHI ?

Luthfi Bashori Suatu saat Rasulullah SAW mengirim satu pasukan dan mengangkat seorang Anshar sebagai pemimpin, serta memerintahkan agar seluruh pasukan mematuhi pemimpinnya. Di tengah jalan, tiba-tiba...