Alumni 212 Laporkan Kriminalisasi Ulama ke Komnas HAM

91
alumni 212
Presidium Alumni 212 saat melakukan pertemuan dengan Komisioner Komnas HAM di Kantor Komnas HAM, Jakarta.

JAKARTA – Hari ini, Jumat (19/5/2017), alumni aksi 212 menggelar long march ke Komnas HAM. Mereka meminta Komnas HAM turun tangan membantu ulama yang mereka sebut tengah dikriminalisasi.

Massa memulai aksi dengan Salat Jumat berjamaah di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Kemudian pasca salat Jumat, mereka membubuhkan tanda tangan petisi di atas kain putih panjang kurang lebih 15 meter.

Petisi tersebut untuk mendukung Tim Investigasi Komnas HAM untuk berani, tidak ragu dan tidak kendur dalam mengusut tuntas pelanggaran HAM (berupa kriminalisasi, teror, dan intimidasi) terhadap para ulama dan aktivis.

alumni 212
Aksi tanda tangan petisi dukungan ke Komnas HAM terkait kriminalisasi ulama. (FOTO: SERUJI/Ikhwan Fakhrie Rahmat)

Setelah proses tanda tangan petisi, massa melakukan long march ke kantor Komnas HAM di Jl. Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat.

Ketua Presidium Alumni 212, Ustadz Ansufri Idrus Sambo dan anggota perwakilan diterima di kantor Komnas HAM. Mereka diterima oleh dua komisioner Komnas HAM Siane Indriani dan Natalius Pigai.

“Hari ini kita membawa jutaan petisi untuk memberikan dukungan ke Komnas Ham khusus untuk kriminalisasi yang semakin masif dilaksanakan oleh pemerintahan kita,” kata Sambo dalam audiensi.

Kriminalisasi yang dimaksud Sambo itu salah satunya merujuk pada kasus chat dugaan pornografi ‘baladacintarizieq’ yang dikait-kaitkan dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab, juga ustad Al Khathath yang dituduh makar.

“Kami datang kemari menyampaikan juga banyak fitnah-fitnah terhadap Habib Rizieq dengan kasus chat mesum itu sudah terlalu luar biasa, ini merupakan pelanggaran HAM yang gila-gilaan. Lalu kami meminta penangguhan untuk ustad Al Khathath (Sekjen FUI) yang sedang di Bareskrim apalagi saat ini beliau sedang sakit. Yang juga perlu diingat tidak boleh diskriminatif kepada kelompok kita yang terus ditekan,” kata Sambo.

Sambo berharap, Komnas HAM menyelidiki dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan negara berkedok kriminalisasi.

“Kriminalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap sejumlah ulama mencerminkan karakter sesungguhnya pemerintahan Joko Widodo -Jusuf Kalla.” ujarnya.

Dukungan kepada Komnas HAM diberikan karena adanya dugaan ‎intervensi terhadap pembela hak asasi manusia tersebut. Intervensi bukan hanya dari luar bahkan dari institusi Komnas HAM sendiri.

“Ada pihak-pihak yang mencoba menghalangi Komnas HAM dalam bertugas, bahkan ada informasi pak Natalius Pigai (Komisioner komnas HAM) akan dimakzulkan,” katanya.

Di pihak Komnas HAM, Komisioner Komnas HAM Siane Indriani secara resmi menerima pengaduan itu. Ia mengatakan, Komnas HAM akan menindaklanjuti laporan tersebut.

“Kami mengapresiasi karena sudah mengadu ke Komnas Ham dan mempercayai Komnas Ham. Ini merupakan kewajiban kami dan kami pasti menyampaikan mana yang salah mana yang benar,” kata Siane.

Sementara itu Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengaku mengapresiasi dukungan yang diberikan kepadanya. Menurutnya Komnas HAM tidak pernah kendur terhadap intervensi apapun.

“Komnas HAM tetap profesional dalam melakukan investigasi, dan tidak pernah takit diintervensi,”ujarnya.

alumni 212
Massa alumni 212 long march ke Komnas HAM. (FOTO: SERUJI/Ikhwan Fakhrie Rahmat)

Sebelumnya, sejumlah tokoh dari Presidium Alumni 212 melakukan audiensi dengan Komnas HAM di Kantor Komnas HAM, Kamis, 4 Mei 2017. Pertemuan tersebut digelar untuk mendesak Komnas HAM agar segera menindaklanjuti sejumlah dugaan pelanggaran HAM terhadap para ulama dan aktivis yang aktif menyuarakan keadilan hukum, terkait kasus penistaan agama oleh terdakwa Basuki Tjahaja Purnama.

 

EDITOR: Iwan Y

loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama