Absennya NU Dalam Hiruk Pikuk Isu PKI

9
416
banser
Banser NU membakar bendera PKI.

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Dalam hiruk pikuk isu Partai Komunis Indonesia (PKI) belakangan ini, organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) terkesan menjaga jarak atau tak ingin terlibat terlalu dalam.

Kalaupun ada beberapa tokoh NU yang berbicara tentang isu PKI, mereka sekadar melayani pertanyaan jurnalis. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dalam bulan September ini beberapa kali menggelar kegiatan lebih suka menyoroti persoalan kebhinekaan dan krisis Rohingya.

Gerakan Pemuda Ansor Surabaya memang sempat memutar film Pengkhianatan G30S/PKI ketika merayakan tahun baru Islam, tetapi hanya cuplikan saja dengan durasi sekitar lima menit.

Kondisi ini cukup menarik karena bagaimanapun terasa “kurang afdol” membicarakan isu PKI tanpa menyinggung NU. Sejarah mencatat konflik berdarah kedua kelompok ini di masa lalu.

Empat tahun silam, tepatnya 9 Desember 2013, PBNU secara khusus meluncurkan buku terkait hubungan NU dan PKI. Buku berjudul “Benturan NU-PKI 1948-1965” itu dianggap sebagai “buku putih”.

Wakil Sekjen PBNU Abdul Mun’im Dz selaku ketua tim penulis mengakui buku sejarah versi NU itu terbit sebagai reaksi atas berbagai laporan yang menyudutkan NU terkait pembunuhan terhadap pengikut PKI, termasuk liputan khusus Majalah Tempo edisi Oktober 2012 bertajuk “Pengakuan Algojo 1965”.

Kini, ketika sejumlah kalangan Islam meramaikan isu PKI, juga TNI dengan kegiatan nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI, NU justru terlihat kalem, bahkan menganggap isu itu “tak penting”.

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa persoalan PKI sudah selesai. Kader NU yang juga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menegaskan PKI adalah masa lalu yang tak perlu ditakuti lagi.

Ketua Bidang Kebudayaan dan Hubungan Antarumat Beragama PBNU Imam Azis, sebagaimana dimuat Tempo.co, menyebut film Pengkhianatan G30S/PKI hanya efektif pada zaman Orde Baru, kalau diputar sekarang akan banyak yang menertawakan.

9 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Fahmy Alaydroes

PKS: Pemerintah Jangan Terlalu Fokus Pada Pembangunan Infrastruktur

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Ketua Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) Fahmi Alaydroes menyatakan pemerintahan tidak seharusnya terlalu fokus kepada...

Ketua MPR: Delapan Parpol Setujui Miras Dijual Bebas

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Zulkifli Hasan mengungkapkan, saat pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang peredaran minuman keras (RUU Miras) di DPR, ada...
Tolak LGBT

Ketua MPR: Lima Fraksi Setujui Perilaku LGBT

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengungkapkan ada lima fraksi di DPR RI yang menyetujui perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender...
beras impor

Ganjar Tegaskan Jateng Tidak Perlu Beras Impor

SOLO, SERUJI.CO.ID - Akhir Januari 2018 nanti, pemerintah berencana mengimpor 500 ribu ton beras. Namun Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menolak jika beras impor...
Beras impor

Ganjar: Jateng Tak Perlu Beras Impor

SOLO, SERUJI.CO.ID - Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan wilayahnya tidak perlu beras impor, karena sebentar lagi memasuki musim panen. "Kami tidak perlu beras impor,...
loading...
cj

Farid Majdi: Hukum Telah Dilihat Sebagai Bagian dari Kejahatan?

Hukum di Indonesia saat ini menjadi sorotan publik, ketika berbagai kasus yang terjadi di tingkat penegak hukum: kepolisian, jaksa, pengacara bahkan hakim, mencuat dan...

Partai Dan Pilkada

Tahun ini sampai 2020 merupakan tahun politik.  Mulai dari pilkada serentak ditahun 2018 dilanjutkan dengan pemilu legislatif dan pemilihan presiden.  Helat yang dilaksanakan sekali...
KH Luthfi Bashori

Tatkala Maut Menjemput

Tatkala maut akan menjemput kita, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk itu? Teringat Nabi Dawud dalam gubahan kisah ringan, tatkala Beliau dikunjungi malaikat Izrail, maka terjadilah...