Gunakan Medsos, Gus Ulil Sampaikan Ihya Ulumuddin untuk Generasi Milenial

0
319
  • 4
    Shares
Ihya Ulumuddin
Ulil Abshar Abdallah di acara Kopdar Ngaji Kitab Ihya Ulumuddin, di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Jumat (23/3/2018). (foto:Luh/SERUJI)

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdallah menyampaikan kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dengan metode baru, mengikuti tren kaum muda milenial.

Ulil sengaja dalam pemaparan kitab Ihya Ulumuddin menggabungkan dua jenis metode. Yakni metode tradisional dengan membaca teks dan kemudian mengemasnya dengan metode live streaming melalui media sosial.

“Sekaligus memperkenalkan pada publik terhadap tradisi membaca teks yang populer dikalangan NU. Jadi saya menerapkan metode yang lama itu, sambil saya pakai metode baru, pake live streaming lewat FB,” tuturnya dalam acara Kopdar Ngaji Kitab Ihya yang dihelat oleh Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) di Fastron Cafe, lantai 3 Gedung UNUSA, Surabaya, Jumat (23/3) malam.

Selain itu, Gus Ulil sapaan akrab Ulil Abshar Abdallah mengaku tidak akan menggunakan bahasa Jawa dalam penyampaian makna kitab Ihya Ulumuddin, sebagaimana lazim dilakukan kiai sepuh dalam tradisi NU. Ia tetap akan menggunakan bahasa Indonesia yang populer di telinga anak muda.

“Saya mau berniat begitu (gunakan bahasa Jawa, red). Saya diprotes anak-anak Madura, ‘nanti klo pakai bahasa Jawa saya nggak paham’. Anak-anak di Sunda juga protes ‘jangan pakai bahasa Jawa, boleh memaknai tapi pakai bahasa Indonesia’,” jelasnya.

Menantu Gus Mus ini tidak ingin kitab Ihya Ulumuddin hanya bisa dimaknai oleh kaum tua yang berusia lanjut saja. Tapi, ia ingin menghadirkan pemaknaan kitab tersebut yang akrab juga dengan kaum muda milenial.

“Saya tertantang menghadirkan kitab Ihya ini, bukan saja sebagai kitab untuk orang sepuh tapi saya ingin hadirkan Ihya ini adalah kitab yang cocok untuk anak zaman now,” ujarnya.

Ngaji Kitab Ihya Ulumuddin ini juga dihadiri pembanding dari Pengasuh Ponpes Al-Masuriah Tebuireng Gus Zaki Hanzik, Ketua Yayasan RSI Jemursari Surabaya Pro. Mohammad Nuh, Rektor UNUSA Prof. Achmad Jazidie, Guru Besar Ilmu Politik UNAIR Prof. Kacung Marijan, dan CEO Ngopibareng Arif Afandi.

Acara kajian ini diikuti sekitar 300 audiens umum yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. (Luh/Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU