Persebaya Kalahkan Borneo FC Dengan Skor 2-1


SAMARINDA, SERUJI.CO.ID – Persebaya Surabaya mempermalukan tuan rumah Borneo FC dengan kemenangan tipis 2-1, pada pertandingan lanjutan kompetisi Liga 1 2019 di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, Ahad (23/6).

Tim berjuluk Bajul Ijo tampil percaya diri dan mampu meredam ambisi tuan rumah Borneo FC yang berniat mengamankan poin sempurna di laga kandangnya.

Justru di luar dugaan, tim Persebaya Surabaya yang berangkat menjalani laga tandang dengan target satu poin atau hasil seri, bisa meraih kemenangan di kandang Borneo FC yang terkenal sulit diraih oleh tim Liga Indonesia.

Pada laga tersebut, Skuad besutan Djajang Nurjaman berhasil memimpin dua gol duluan di papan skor melalui Kapten Ruben Sanadi pada menit 40 babak pertama dan tambahan satu gol dari Oktavianus Fernando pada menit 70 babak kedua.

Dua gol yang berhasil dicetak oleh tim Persebaya Surabaya merupakan asist dari gelandang asal Tajikistan Manuchekhr Dzalilov.

Tuan rumah Borneo baru bisa memperkecil ketertinggalan melalui penyerang Terens Puhiri satu menit sebelum waktu normal berakhir.

Kekalahan atas Persebaya Surabaya merupakan kekalahan kandang pertama bagi tim Borneo FC di musim kompetisi tahun ini.

Dua laga kandang sebelumnya dijalani Lerby Eliandri dkk dengan hasil seri 1-1 menghadapi Bhayangkara FC dan kemenangan 2-0 msnghadapi Arema FC.

Tambahan tiga poin mendongkrak posisi Persebaya Surabaya menuju peringkat ke-10 klasemen dengan nilai 5.

Sementara hasil kekalahan mendepak posisi Borneo FC menuju peringkat ke-12 dengan nilai 4.

Sumber:Ant

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Prabowo, Jokowi dan Massa

Bila peristiwa 212 yang penuh makna direvisi pada versi pengkerdilan, sebuah perubahan sosial yang akan terjadi setelahnya sulit diprediksi. Itu seperti terjadi beberapa waktu sebelum keruntuhan rezim Suharto dua dekade lalu.

Islam Simbolik dan Islam Substantif: Problema Nilai Islamisitas dalam Politik Indonesia

Bagi saya, Habib Rizieq Shihab masih kurang radikal karena ia tidak memiliki ide original tentang negara nomokrasi Islam, yang menurut Thahir Azhary (1995) sebagai negara ideal atau negara siyasah diniyah dalam konsepsi Ibnu Khaldun (1849). Pengetahuannya tentang Kartosoewirjo yang pernah mendirikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat tahun 1949 juga sangat minim sehingga jika dipetakan, ia hanyalah tokoh pinggiran dalam proses revolusi Islam yang kini sedang berproses di Indonesia.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close