Tafsir Pancasila Mana Yang Sedang Berkuasa?

Refleksi Mundurnya Yudi Latif dari Ketua BP Ideologi Pancasila.
Oleh: Denny JA

0
117

Ini hukum besi dunia gagasan. Ideologi, agama, paham, apapun di dunia gagasan yang sudah banyak pengikutnya akan terjadi spektrum pemahaman. Akan terjadi perselisihan tafsir, mulai dari yang paling kiri hingga paling kanan. Jika sebuah kekuasaan akan mengambil paham itu sebagai dasar kebijakannya, tafsir yang mana yang akan ia pakai? Mengapa tafsir itu?

Untuk agama, seperti Islam, misalnya. Walau kitab suci Alquran itu satu, tapi ada tafsir Wahabisme yang konservatif di kanan, dan tafsir Progresive Muslim yang liberal di kiri. Untuk Marxisme, ada tafsir Lenin dan Stalin yang menjadikannya negara komunis di sebelah kanan. Tapi ada pula tafsir Frankfurt School yang menjadikan Marxisme paham humanis di sebelah kiri.

Dalam prakteknya, Pancasilapun sudah punya jejak tafsirnya di era Bung Karno dan Pak Harto. Dua orde ini dalam slogan sama-sama menjadikan Pancasila dasar negara. Pancasila memberi arah keseluruhan bangunan dan kelembagaan politik dan ekonomi.

Tapi apa yang terjadi? Di era Bung Karno, in action, Pancasila menjadi dasar dari Orde yang disebut Demokrasi Terpimpin. Di era ini, bahkan Bung Karno pernah diangkat menjadi Presiden seumur hidup. Di era itu, bahkan Bung Karno pernah membubarkan DPR.

Ketika Bung Karno berkuasa, bangunan itu dipahami oleh elit berkuasa sebagai pengejawantahan Pancasila. Ketika Bung Karno tumbang, lahir elit baru yang memberikan narasi baru. Bung Karno dipahami secara terbaik: Ia menghianati prinsip Pancasila.

Pak Harto berkuasa juga menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Di era itu, orde Demokrasi Terpimpin berubah menjadi Demokrasi Pancasila.

Dalam Demokrasi Pancasila, ada dwifungsi ABRI: militer punya peran politik. Partai dibatasi hanya tiga saja. Tak semua perwakilan rakyat (MPR) dipilih. Ada pula yang diangkat, dalam prakteknya atas persetujuan presiden, yaitu Utusan Golongan.

Di era itu, praktek yang dilakukan pak Harto dipuji sebagai pelaksanaan Pancasila yang murni dan konsekwen. Tapi ketika Suharto dijatuhkan, muncul elit baru dengan narasi baru. Suharto mengalami apa yang dialami Bung Karno: dipuja di eranya sebagai pelaksana Pancasila. Lalu berubah sebagai penghianat Pancasila oleh musuh politiknya.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA
Deddy Mizwar

Sempat Menolak, Deddy Mizwar Dipastikan Hadir di Debat Publik Ketiga

BANDUNG, SERUJI.CO.ID – Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Deddy Mizwar (Demiz) dipastikan hadir setelah sempat menolak menghadiri Debat Publik Ketiga Jawa Barat...

Kunjungi Anak-Anak Imigran, Melania Trump Justru Tuai Kecaman

TEXAS, SERUJI.CO.ID -  Kunjungan Ibu Negara Melania Trump pada Kamis (21/6) ke penampungan anak-anak pendatang, yang terpisah dari orangtua mereka di Texas, dibayangi jaketnya, yang...

Tinggalkan Everton, Ramiro Mori Gabung Villarreal

MADRID, SERUJI.CO.ID - Klub liga Spanyol Villarreal rekrut bek Ramiro Funes Mori dari Everton lewat kontrak empat tahun, demikian dikatakan klub asal Spanyol itu. Bek asal...

Sempat Dibatalkan, Akhirnya Laga Persebaya vs Persija Akan Digelar

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Operator Liga 1 2018 PT Liga Indonesia Baru (LIB) memutuskan lanjutan laga kandang yang tertunda Persija Jakarta menghadapi Persebaya Surabaya dan Persib...

KPK Perpanjang Penahanan Bupati Purbalingga

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang penahanan tersangka Bupati Purbalingga dalam tindak pidana korupsi suap terkait pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kabupaten...