Asyari Usman.

Kita berharap agar DPR segera bersidang paripurna untuk memilih ketua DPR yang baru.

Sebetulnya, sejak beliau ditetapkan sebagai tersangka di babak pertama tempohari, DPR semestinya mencopot Pak Setnov. Tetapi, DPR sebaliknya memberikan “angin segar” kepada beliau dengan membentuk Pansus KPK. Hampir pasti, “serangan balik” DPR dalam bentuk Pansus itu membuat Pak Setnov bersemangat untuk menyusun strategi pemangkiran.

Enough is enough, kata orang seberang. Sudah cukuplah sampai di sini. Mari kita move-on dengan ketua DPR yang baru; bahkan dengan ketua Golkar yang baru.

Kalau DPR dan juga orang lain berpendapat orang-orang KPK banyak melakukan “abuse of power” (penyimpangan kuasa atau penyalahgunaan kekuasaan), pasti akan mendapat giliran untuk dilempangkan. Semua invidu di lembaga antikorupsi ini yang terindikasi “abuse of power”, harus juga ditekuk dengan pedang hukum.

Selama ini, rakyat memberikan dukungan kepada KPK dengan segala persoalan internalnya semata-mata karena tidak ada lagi institusi penegak hukum yang bisa dipercaya. Tidak berarti rakyat rela melihat orang-orang KPK bertindak semena-mena.

Tetapi, untuk urusan Pak Setya Novanto, rakyat lebih percaya kepada KPK ketimbang kelit-kelit yang dilakonkan oleh ketua DPR itu.

*) Penulis adalah warawan senior

(Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama