Prabowo, Jokowi dan Massa

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle


Jokowi tanpa massa

Entah karena gugatan atas “block-out” sebelumnya, Kompas online, dua hari lalu, memberitakan acara yang dihadiri Jokowi sepi di Gedung Balai Kartini Jakarta, sehingga kursi-kursi kosong disingkirkan Paspampres.

Kosongnya acara yang dihadari Jokowi, maupun acara dukungan terhadap Jokowi, memang sering menjadi pemberitaan dan pembicaraan publik, khsususnya di media sosial. Beberapa waktu lalu, misalnya, acara yang diorganisasikan Projo di Riau, meski dengan dukungan kepala kepala daerah juga kosong melompong.

Sebaliknya, berita yang menunjukkan kehadiran Jokowi disambut massa membludak terjadi di Lampung beberapa waktu lalu, kelihatannya terjadi karena mobilasi yang massif, bukan sebuah partisipasi rakyat.

Berita kehadiran Jokowi tanpa massa dapat ditafsirkan bahwa insentif rakyat untuk menghadiri acara Jokowi atau pro Jokowi sudah pudar. Jokowi sendiri sebagai “magnit” yang pernah terjadi 5 tahun lalu, sudah luntur.

Fenomena Jokowi sebagai pemimpin tanpa massa memang demikian adanya, karena Jokowi bukanlah pemimpin partai atau pemimpim ormas sejak dahulu pula. Jokowi tidak mempunyai ikatan sosial atau batiniah dengan kelompok masyarakat manapun.

Dalam kepemimpinan seperti ini, Jokowi hanya bersandar pada ukuran-ukuran formalitas untuk mendapat apresiasi dari masyarakat. Jika masyarakat merasa kinerja Jokowi sesuai dengan janji politiknya 5 tahun lalu, maka apresiasi akan diberikan oleh masyarakat.

Fenomena Jokowi ini mirip seperti Marcon di Prancis dan Habibie di Indonesia. Mereka menjadi Presiden sama sekali tanpa ikatan identitas terhadap rakyat. Tidak jelas mewakili golongan mana.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close