Pemimpin Yang Membangun Peradaban

Review Film Sultan Agung: Tahta, Perjuang, Cinta (Hanung Brahmantyo- Moeryati Soedibyo Cinema, 148 menit)

Yang menarik dari kisah perjuangan, penghianatan dan intrik kekuasaan di seputar istana tidak digambarkan hitam putih. Ini tidak hanya konflik antara antara orang baik versus orang jahat.

Intrik dan konflik terjadi acapkali karena perbedaan persepsi tentang apa yang baik untuk rakyat mataram. Jika ada kepentingan pribadi yang melandasi penghianatan, ada riwayat yang bisa diterima. Acapkali konflik terjadi karena dilema, antara baik versus baik. Antara buruk versus buruk.

Di bawah kekuasaan Sultan Agung, kerajaan Mataram pun berkembang. Aneka penaklukan dilakukan. Surabaya, Malang dikuasai. Kerajaan Mataram meluas ke wilayah Jawa Timur, dan Tengah.

Ekspansi kekuasaan Sultan Agung akan meluas lagi ke Banten dan Batavia. Kesulitanpun muncul. Batavia dikuasai VOC. Berbeda dengan kerajaan lain yang bisa ditaklukan Sultan Agung, VOC punya teknologi senjata yang jauh lebih canggih. Mereka juga punya dana besar dan pengalaman perang.

Kekalahan Sultan Agung yang gagal menaklukan Batavia harus dibayar mahal. Pasukan dan basisnya tercerai berai. Ketidak puasan para elit istana menjadi awal terjadinya pemberontakan kepada Sultan Agung sendiri.

Dalam kesendiriannya merenungkan kegagalan, tampil pula sosok Sultan Agung yang kadang putus asa. Di hadapan ibu, ia tampil telanjang. Sang ibu menguatkan dan kembali mengingatkan tentang ajaran yang dibawa maha guru Sunan Kalijaga. Ajaran tentang aneka petatah petitih hidup. Ajaran tentang pentingnya agama, budaya.

Sultan Agungpun mulai mengalihkan perhatiannya dari perang dan penaklukan, dengan menghidupkan budaya. Ia sendiri mengajarkan anak anak menari. Ia perkenalkan wayang.

Spirit perjuangan menyusup di sana dan di sini. Ketika Lembayung, kekasih hati masa remaja, meminta Sultan Agung menghentikan perang, untuk pertama kali ia bicara dengan membentak di hadapan sang kekasih.

Sultan menyatakan visinya. Mengapa ia mengirim pasukan ke Batavia melawan penjajah walau kalah. Ujar sang Raja: “ini bukan hanya untuk hari ini. Aku ingin ratusan tahun dari sekarang, rakyat banyak tahu bahwa kita punya keberanian untuk melawan. Kita menolak bekerja sama jika akhirnya kita dijajah.”

Kita boleh kalah. Tapi kita tak boleh menyerah!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER

Bantah Keterangan Polisi, BPK Tegaskan Belum Pernah Audit Dana Kemah Pemuda Islam

Ternyata BPK menyatakan belum ada permintaan audit terkait kegiatan Apel dan Kemah Pemuda Islam 2017. Bahkan, BPK pun belum pernah melakukan ekspose terkait dugaan penyimpangan dana atas kegiatan tersebut yang menjerat Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak.

dr. Antina Nevi Hidayati, SpKJ