MENU

Nasionalisme Kita: Rizal Ramli, Tak berkompromi Dengan Urusan Harga Diri Bangsa

Catatan Akhir Tahun Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle

Menteri gak doyan duit adalah modal utama melawan “kejahatan” korporasi asing. Kejahatan maksudnya karena memang mereka pikir orang-orang kulit sawo mateng seperti kita ini gampang diakali. Tentunya dengan kecanggihan mereka dalam ilmu hukum dan “financial engineering“.

Namun, lebih utama dari tidak doyan duit adalah soal Nasionalisme. Buat pejuang seperti Rizal, tentu mengutamakan kepentingan bangsa berbeda dengan Ginanjar Kartasasmita (andaipun Ginanjar Kartasasmita gak doyan duit?).

Dalam Kontrak Karya (KK) Freeport, Ginanjar Kartasasmita meminta tolong saya mempertemukan dengan Beathor Suryadi dan Budiman Sudjatmiko, ketika kedua yang terakhir menyerang Ginanjar Kartasasmita soal Freeport tahun 2006 atau sekitar tahun itu.

Budiman tidak ada. Ginanjar Kartasasmita disaksikan saya dan Jumhur di Summitmas Tower II, menjelaskan bahwa konsesi emas yang dia perjuangkan sudah cukup baik pada KK-2. Kalau mau kita ubah, tunggu saja KK tersebut berakhir 2021. Toh sudah punya kita.

Rizal Ramli juga berbeda dengan Luhut Panjaitan, tangan kanan Jokowi. Sejalan dengan Ginanjar Kartasasmita, Luhut Binsar Panjaitan dalam video yang viral di medsos, mengatakan bahwa KK-2 akan berakhir 2021, kita bisa aja langsung mengambil Freeport, seperti Blok Mahakam, tapi ya kita harus menjaga hubungan dengan Amerika.

Rizal tidak berkompromi dengan urusan harga diri bangsa. Dari segi penghasilan negara, Freeport sebenarnya sangat kecil, 756 juta dollar, tidak sampai 10% dari cukai rokok tahun 2017 yang mencapai Rp147 Triliun.

Tapi soal Freeport adalah soal siapa yang atur kekayaan bangsa kita. Disinilah sikap “bahaya” Rizal kepada bangsa asing, khususnya korporasi asing.

Dalam catatan Rizal, bahkan pemilik Freeport (dulu), Jim Moffet mengakui telah menyogok Ginanjar Kartasasmita dan bersedia mengembalikan kompensasi sebesar 5 Miliar dollar (jauh lebih besar dari utang kita untuk beli Freeport saat ini).

Apakah Rizal Ramli bodoh dan dungu? Dari segi pendidikan, Rizal dan Budi Sadikin (Bos Inalum yang mengambil alih Freeport) sama-sama anak fisika ITB, pengagum teori relativitas Einstein.

Rizal bukan lah orang bodoh. Bukan pula orang doyan duit. Ini hanya sebuah perbedaan konsep, yakni tentang Nasionalisme (dalam artian luas mencakup patriotisme dan freedom serta sovereignty sebuah bangsa).

Ke depan, di era mulai hancurnya globalism, di era pemimpin-pemimpin nasionalistik seperti Trump, Putin, Xie Jin Ping, Erdogan, Evo Morales, dan lain lain, sebuah bangsa besar hanya akan muncul dari orang-orang yang berpikir bangsanya nomer satu, lalu urusan “Internasional Agreement” nomer dua.

Ini sebuah era baru. Hayoo bangkit.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER