Modernisasi di Sana Dimulai Dengan Pajak Untuk Pria Yang Berjenggot

Catatan Perjalanan Denny JA

Peter the Great melakukan reformasi budaya yang sulit untuk dibalik. Ketika sudah menjadi raja, ia datang ke Eropa untuk belajar. Agar tak terganggu suasana belajar, ia menyamar, menggunakan nama lain.

Bahkan ketika di Belanda, Ia menjadi tukang kayu di usaha pelayaran. Itu ia lakukan karena ingin tahu bagaimana membangun pasukan maritim di Rusia kelak. Ia ingin belajar bahkan dari level pegawai kelas bawah.

Uniknya momen itu. Raja menjadi tukang kayu karena ingin belajar. Sebuah patung pun didirikan mengabadikan momen ketika Peter the Great menyamar bekerja sebagai tukang kayu.

Ia terbelalak melihat pemerintahan dan budaya di Perancis. Ia juga mengunjungi Denmark dan Jerman Utara. Ia ke Eropa tahun 1697-1698. Kembali ia berkunjung ke sana, di tahun 1716-1717. Di antara dua era itu, Peter datang pula ke Eropa, kapanpun ia ingin mempelajari peradaban barat lebih jauh.

Reformasi besar besaran ia lakukan. Rusia harus menjadi negara besar. Rusia perlu diubah seperti tata nilai peradaban barat.

Peter mewajibkan sekolah bagi anak- anak. Mereka harus mengetahui ilmu pengetahuan, minimal aljabar dan geometri. Mereka perlu ditest agar pasti ilmu pengetahuan itu diserap.

Pemerintahan ia tata. Wilayah kerajaan, ia ubah bertingkat menjadi seperti provinsi dengan seorang gubernur yang memimpin penuh. Birokrasi ia buat berdasarkan merit system. Ada jenjang bertingkat dalam birokrasi, dengan otoritas dan kewenangan bertingkat pula. Setiap jabatan memerlukan kualifikasi tertentu.

Perdagagan ia dorong. Sistem pajak yang rumit, ia sederhanakan. Para pedagang di Rusia dan kerajaan sendiri harus dimudahkan membangun kesejahteraan. Sistem kalender ia ubah mengikuti kalender di Barat. Awal tahun dimulai tanggal 1 Januari.

Tak lupa, Peter the Great memperluas teritori Rusia. Kerajaan harus memiliki akses langsung ke laut, untuk membangun pasukan maritim terbesar dunia. Siapapun yang menghalangi, ia taklukan dengan perang.

Rusia harus menjadi seperti peradaban barat. Bahkan itu sudah terlihat dari penampakan fisik para elit dan penduduk. Tak hanya dari pakaiannya, bahkan untuk pria juga dari wajahnya.

Sangat detail Peter mengatur itu. Soal jenggot pun ia urus. Itulah konteks sosial dan ambisi dibalik lahirnya pajak bagi lelaki yang bejenggot.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Inilah 4 Keuntungan Membeli Apartemen Tipe Studio

Tinggal di apartemen saat ini sudah menjadi gaya hidup. Lokasi yang strategis dan ditunjang dengan berbagai fasilitas kemudahan menyebabkan banyak masyarakat urban, khususnya para eksekutif muda tertarik untuk tinggal di hunian vertikal.

Aksi Solidaritas Jurnalis-Aktivis di Pengadilan Tinggi Kalsel: Diananta Tidak Sendiri

Para aktivis dan jurnalis terus menggelar aksi solidaritas untuk mantan Pemred Banjarhits, Diananta Putera Sumedi yang disidang sebab menulis berita konflik lahan masyarakat adat versus perusahaan.

Masuki Masa Transisi New Normal, AMSI Jatim Keluarkan 7 Poin Imbauan

Mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 di masa transisi New Normal yang semakin meningkat, AMSI Jawa Timur, mengeluarkan 7 poin imbauan.

CFD Kembali Ditiadakan, Fahira: Review dan Evaluasi Kunci Jakarta Kendalikan Covid-19

Senator DKI Jakarta Fahira Idris mengapresiasi keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang kembali meniadakan sementara kegiatan car free day (CFD).

Inilah 5 Kota Yang Jadi Incaran Calon Pembeli Rumah Saat Pandemi Covid-19

Pandemi corona telah mengubah wajah bisnis tanah air, termasuk sektor properti. Jika dulu orang membeli rumah harus datang ke lokasi proyek, sekarang tidak lagi.

Senator DKI: Pasar Harus Jadi Area Paling Aman dari Penyebaran Corona

Pencegahan penyebaran corona di pasar termasuk pasar tradisional menjadi salah satu langkah strategis dan efektif untuk menahan laju dan menghentikan penularan dan penyebaran Covid-19 di Indonesia

TERPOPULER