Misteri Meninggalnya Sang Fajar Merah

0
521
Tan Malaka. (Foto: biografipahlawan.com)

Adalah Harry A. Poeze, seorang sejarawan Belanda yang menyimpulkan bahwa
Sutan Ibrahim atau lebih dikenal Tan Malaka dibunuh di Jawa Timur di daerah
Kediri. Ditembak kemudian dikubur di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri.

Tan Malaka sendiri banyak mengalami kisah hidup yang naik turun. Dia terjebak pada perang Shanghai-Jepang. Dia terjebak pada Perang Dunia dan akhirnya ia balik ke Jawa. Baliknya Tan Malaka ke Jawa ini mirip perjalanan Lenin dari Bern ke Moskow dengan kereta api yang kerap diingat dalam sejarah sebagai ‘perjalanan revolusi’ Tan Malaka. Balik dari Singapura ke Jawa dengan hanya perahu kecil di tengah badai. Taruhannya adalah kematian.

Tan Malaka menghadapi itu demi sebuah pembebasan, pembebasan bangsanya. Tan
Malaka sampai di Jakarta tanpa memiliki apa-apa. Namun ia punya kepandaian. Ia pandai menjadi guru. Ia seorang poliglot, bisa banyak bahasa. Ia mengajar bahasa Inggris, Belanda kepada orang-orang yang membutuhkan.

Ia mengontrak rumah separuh kandang kambing di bilangan Rawajati, Kalibata (belakang
pabrik sepatu Bata). Dia sering merenung di danau dekat Rawajati (sekarang danau pemakaman Kalibata). Di sana ia merenung tentang hakikat pembebasan. Ia menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Ia merinci hakikat gerak alam. Ia mengarahkan seluruh situasi pada soal-soal rasional.

Ia menghantam tahayul dan tanpa referensi apapun. Ia sudah mencantumkan segala
ingatannya di kepala. Pada dasarnya ia bukan saja seorang jenius, otaknya fotografis. Sempat mendirikan Pari (Partai Republik Indonesia) di tahun 1927, bersama Subakat, Sugono, dan Djamaluddin Tamim.

Suatu malam Tan Malaka dibawa ke Prambanan oleh sekelompok orang. Para pemimpin PKI berteriak pada pertemuan sangat rahasia “Kita memberontak sekarang juga sebagai katalisator, sebagai pemicu pemberontakan besar di Asia Tenggara,” tandas salah satu pemimpin Komunis.

Tapi Tan Malaka justru berdiri “Saya menolak”. Tan Malaka kontan dibenci dan dia dijauhi oleh kelompok Moskow. Namun nama Tan Malaka sudah terlanjur menjadi ikon PKI.

Polisi Belanda punya kesempatan mengacau gerakan dengan main keras dan Tan
Malaka menjadi buronan nomor satu agen Polisi Belanda. Agen Polisi Rahasia Hindia Belanda di Bogor mengontak Pemerintahan Inggris di Singapura dan perwakilan Amerika Serikat di untuk memburu Tan Malaka setelah dia berhasil lari dari penjara Belanda. Maka dimulailah episode perburuan paling mencekam sepanjang sejarah Indonesia modern.

Tan Malaka dihadapkan situasi hidup-mati. Temannya Soebakat ditembak mati
di Singapura. Ia sendiri dikejar dimana-mana. Di Manila nama Tan Malaka
menjadi headline surat kabar. Pemerintahan Manila mendesak agar Tan Malaka
dibebaskan dari buruan perwakilan Amerika Serikat di wilayah Manila. Lalu
Tan Malaka melarikan diri ke Hongkong. Di sana Tan Malaka berhasil ditangkap.

Media massa Hongkong dan Inggris bersimpati pada Tan Malaka dan mengirimkan surat ke pemerintahan London untuk membebaskannya. Kesal dengan situasi formal yang diserang media akhirnya polisi Belanda dan Inggris ingin menghabisi Tan Malaka diluar jalur hukum. Keputusan inilah yang kemudian menjadi efek terbesar gangguan jiwa Tan Malaka yang terlalu paranoid.

Suatu saat Tan Malaka membaca buku di perpustakaan nasional (sekarang
Musium Gadjah). Profesor Purbacaraka berteriak di depan ruang baca,”Apakah
ada yang bisa menjadi penerjemah bagi pekerjaan saya”. Tan Malaka
menunjukkan tangannya. Ia bekerja menjadi penerjemah dari bahasa Belanda ke
Bahasa Inggris untuk pekerjaan Prof Purbacakaraka, ahli bahasa Jawa Kuno
pertama di Indonesia.

Bila Bung Karno mencari jalur resmi, maka Tan Malaka memilih jalur perang abadi. Bagi Bung Karno semua hal adalah gertak dan diplomasi. Tapi bagi Tan Malaka semua soal adalah perang betulan. Dan sepanjang masa revolusi ini Tan Malaka serta Soekarno seperti dua matahari kembar yang meledak di banyak tempat.

Revolusi sosial di Solo, penculikan Perdana Menteri Sjahrir, penangkapan Jenderal Dharsono, Perang Srambatan, sampai pada konflik Amir-Sjahrir di Madiun dimana Tan Malaka digunakan Hatta untuk menghantam Amir di Solo. Tapi sekali lagi Tan Malaka tetaplah pejuang yang selalu ditinggal sendirian. Ia ditinggal PKI, ia ditinggal
Soekarno, ia ditinggal Sjahrir, dan terakhir ia sendirian lalu ditembak mati oleh pasukan Djawa Timur.

EDITOR: Rizky

 

BAGIKAN
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA TERBARU

menteri agama, lukman hakim saifuddin

Menag Butuh Masukan Ormas Terkait Penghayat Kepercayaan

KARAWANG, SERUJI.CO.ID - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membutuhkan masukan dari ormas-ormas keagamaan untuk menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi terkait dengan penghayat kepercayaan. "Sebaiknya terlebih dahulu mendengar...
Soekarwo

Nama Cawagub Khofifah Diumumkan Pekan Ini

SURABAYA, SERUJI.CO.ID - Ketua DPD Partai Demokrat (PD) Jatim sekaligus Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengaku sudah mengantongi satu nama calon wakil gubernur (cawagub) pendamping...
Syaiful Huda

PKB Sodorkan Syaiful Huda Jadi Cawagub Emil

BANDUNG, SERUJI.CO.ID - Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin telah menyodorkan kadernya untuk menjadi Cawagub Jawa Barat mendampingi Ridwan...

KANAL WARGA TERBARU

Sanad Menghilangkan Fitnah Berita

Contoh, ada seorang yang mengabarkan sebuah berita :"Ada penyusup di HMI, jadi bertindak rusuh!". Yang membaca bisa salah persepsi. Ada yang memahami masuknya penyusup saat...

Fenomena Lepas Jilbab

Lepas jilbab dalam bahasan ini bermakna melepas jilbab dengan niat tidak menutup aurat yang seharusnya tidak diperlihatkan. Penekanannya bukan untuk menyalahkan pihak yang setuju...
KH. Luthfi Bashori

SELAGI PEMIMPIN ITU MASIH SHALAT, JANGAN DIPERANGI SECARA FISIK

Luthfi Bashori St. Ummul Mukminin St. Ummu Salamah Ra menuturkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya akan diangkat penguasa di kalanganmu, lalu engkau ketahui mereka...