Mahar Politik
ilustrasi

Dealetika meritokrasi (sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya) birokrasi partai menjadi rusak.

Kenapa tidak memajukan kader sendiri yang kualitasnya tidak perlu diragukan? Ini soal masa depan partai itu sendiri, wajar kemudian menguat fenomena deparpolisasi karena ulah partai itu sendiri yang tak menghormati kadernya.

Parpol gagal dalam soal kaderisasi untuk mengantisipasi berbagai virus penyakit kronis dan penyimpangan politik sulit terbantahkan.

Menurut Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda (2011), paling tidak ada empat penyimpangan virus politik yang gagal diantisipasi partai-partai secara bervariasi, yakni: Pertama, virus pragmatisme yang kian menggerogoti perilaku para elite, kader, dan konstituen partai; Kedua, virus kartelisme yang menyerang perekrutan dan suksesi kepengurusan di dalam partai; Ketiga, virus oligarkisme yang menginternalkan model kepemimpinan dan pengambilan keputusan di dalam partai; Keempat, serta virus faksionalisme yang semakin melemahkan kelekatan organisasi partai.

Lebih lanjut Hanta Yuda menegaskan bahwa menguatnya pragmatisme para politikus merupakan imbas kegagalan parpol menjalankan sistem kaderisasi dan ideologisasi. Keterikatan politikus dengan ideologi paprol sangat lemah.

Akibatnya, kaderisasi parpol cenderung menghasilkan politikus tanpa ideologi. Oleh karena itu, gejala lompat pagar para politikus juga merupakan indikasi kuat tentang kegagalan parpol menjalankan ideologisasi dan kaderisasi.

Dampak pragmatisme ini adalah memerosotkan militansi kader sehingga mesin organisasi parpol tak berjalan optimal. Pada situasi rendahnya militansi kader dan menguatnya pragmatisme pemilih, parpol cenderung menggunakan cara instan menarik simpati pemilih dengan menggunakan kekuatan politik uang (money politics) dalam berbagai pola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama