Adapun proses tender kerjasama pemanfaatan lahan kosong tersebut secara komersial sudah dimulai diawal tahun 2015 dengan mengundang BUMN Karya; PT Pembangunan Perumahan (persero) Tbk, PT Wijaya Karya (persero ) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan masing masing patnernya.

Proses tender telah dilakukan, dengan masing-masing pihak menawarkan konsep bangunan yang akan dibangun dan angka kontribusi maksimal yang akan diterima oleh Patra Jasa.

Menurut rekaman dokumen yang kami punyai, terungkap salah satu BUMN Karya telah menawarkan total nilai kontribusi mendekati angka Rp 1,4 triliun kepada Patra Jasa dan sudah melalui tahapan negoisisasi beberapa kali yang terekam dalam berita acara negosiasi yang ditanda tanganin oleh masing masing pihak.

Bahkan beredar rumor bahwa pembatalan tender tersebut diduga karena calon mitra yang sudah disetujui oleh panitia seleksi tidak sesuai dengan “skenario awal dari pemilik hajad”. Sehingga untuk membuktikan dugaan tersebut perlu perhatian penegak hukum menelisiknya, karena proyek ini sudah bisa diklasifikasikan sebagai proyek “habis besi, arang binasa”.

Diakhir tulisan ini, dengan berat hati perlu mengungkapkan kegaulauan saya, mengingat kegaulauan Presiden akan banyaknya anak usaha dan cucu BUMN, sekitar 800, yang tidak sesuai induk bisnisnya untuk di merger. Dan ternyata ada beberapa BUMN, melalui anak perusahaan, diduga menggunakan kas perusahaan sebagai modus menggelapkan uang dan banyak yang tidak efisien alias sepanjang tahun harus disuntik dengan PMN (Penyertaan Modal Negara).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama