Bukan permintaan maaf yang muncul dari keterpaksaan, melainkan atas pertimbangan untuk menghentikan sak-wa-sangka dari pihak Presiden Jokowi, dari para pendukungnya. Pertanda bahwa kalangan PKS menyadari kepekaan “doa gemukkan badan” itu bagi pihak yang disebutkan. Atau, lebih tepat bagi para pendukung Jokowi.
Pantas diberikan apresiasi atas sikap kesatria PKS dan Shohibul Iman. Mereka sadar bahwa ego untuk tidak meminta maaf, jangan dipelihara.
Mereka tidak menunggu sampai berlarut-larut untuk meminta maaf. Sangat berbeda dengan sikap Partai Nasdem, Pak Surya Paloh, dan Victor Laiskodat dalam kasus pidato provokatif di Kupang. Sikap yang memperlihatkan kebalikan dari sikap patriotis Shohibul Iman. Nasdem dan Laiskodat memilih untuk bertahan dalam arogansi bahwa mereka tidak melakukan kesalahan.
Mereka cenderung menunjukkan kesombongan mereka, ketika mereka mencari-cari alasan untuk tidak meminta maaf kepada umat Islam. Padahal, ujaran kebencian Laiskodat bahwa khilafah akan mewajibkan semua orang sholat, bahwa geraja tidak boleh ada, tentulan jauh lebih serius dibandingkan kesalahan “doa gemukkan badan Jokowi”.
Ujaran kebencian Laiskodat yang menggambarkan seolah akan terjadi peperangan antara umat agama yang satu dengan umat agama yang lain, jelas jauh lebih berbahaya dibandingkan kekeliruan doa Tiffatul.

Semoga Pak Victor dikaruniai hidayah Allah
Bedalah kader partai “Panas adem” dg PKS.Gampang menilainya.