Penegakan Hukum Yang Kaya Kezaliman dan Miskin Rasa Keadilan

Refleksi Ahir Tahun 2018
Oleh : Prof Dr Hasim Purba, SH.MHum., Guru Besar Fak.Hukum USU & Dekan Fak.Hukum Universitas Harapan Medan

Potret Penegakan Hukum di Indonesia.

Bercermin kepada praktek penegakan hukum di Indonesia beberapa tahun tarakhir, khususnya di era Rezim Pemerintahan saat ini, kita melihat banyaknya praktek penanganan kasus hukum oleh institusi penegakan hukum apakah di jajaran Kepolisian, Kejaksaan, KPK dan bahkan di Pengadilan mulai dari tingkat terendah sampai ke tingkat tertinggi Mahkamah Agung RI yang masih jauh dari apa yang diharapkan. Bahkan lembaga Peradilan Konstitusi yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) juga banyak yang menghasilkan Putusan-putusan MK yang dirasa jauh dari rasa keadilan.

Bila kita kilas balik wajah penegakan hukum yang dilakonkan para Aparatur Penegakan Hukum saat ini sungguh sangat memperihatinkan. Berbagai kasus Mega Korupsi yang diduga melibatkan tokoh-tokoh penting dan mempunyai kedekatan dengan Rezim Penguasa bahkan ada sebagian yang memang sedang menduduki jabatan penting dalam Rezim Kekuasaan seolah tak tersentuh hukum.

Bahkan lembaga Peradilan Konstitusi yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) juga banyak yang menghasilkan Putusan-putusan MK yang dirasa jauh dari rasa keadilan.

Sebut saja indikasi korupsi dalam kasus BLBI, Kasus Pengadaan Bus Trans Jakarta, Kasus Pengadaan Tanah Rumah Sakit Sumber Waras, Kasus Izin Reklamasi Pulau-pulau di Teluk Jakarta, Kasus Perizinan dan Pengembangan Proyek Meikarta. Bahkan terakhir muncul dan menguapnya kasus “buku merah” yang terkait dugaan korupsi impor daging, dalam hal mana pengusaha daging impor bernama Basuki Hariman diduga kuat telah memberikan sejumlah uang suap (gratifikasi) kepada beberapa petinggi pejabat penting di Republik ini.

Sementara itu kasus-kasus yang bernuansa politik banyak ditarik dan dipaksakan ke ranah hukum pidana, sehingga muncul istilah kriminalisasi, terutama yang menimpa para ulama, ustadz, aktivis dan tokoh-tokoh kritis yang dianggap berseberangan (oposan) terhadap Penguasa. Berbagai kasus dialamatkan kepada mereka, bahkan kasus pidana yang terkesan sengaja dicari-cari dan dipaksakan deliknya. Semua itu menambah suramnya wajah penegakan hukum yang ada.

Sementara itu ada kasus-kasus yang delik pidananya sudah terang dan nyata yang pelakukunya adalah pihak-pihak atau oknum-oknum yang termasuk dianggap pendukung Rezim Penguasa, padahal telah dilaporkan para korban secara resmi ke aparat penegak hukum (dhi Kepolisian) ternyata tidak mendapat respon dan penanganan yang benar secara hukum.

Semisal berbagai kasus kejahatan persekusi yang dialami para Ulama/Ustadz, tokoh, aktivis seperti: kejahatan persekusi yang dilakukan sekelompok orang terhadap Ust. KH. T. Zulkarnaen (Wasekjen MUI Pusat) di Bandara Sintang Kalimantan Barat. Para pelaku kejahatan persekusi dengan mudah masuk sampai ke areal Runway Bandara dan membawa berbagai senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata ancaman terhadap sang Kiyai, namun sampai saat ini kasus tersebut menguap tanpa jelas rimbanya.

Demikian juga kasus kejahatan dan penghinaan yang dialami Ust. Abdul Somad ketika hendak melakukan tabligh Akbar di Bali pada 9 Desember 2017 yang lalu di Hotel Aston Bali tempat sang Ustadz menginap. Kasus tersebut telah dilaporkan ke Bareskrim Polri, namun nasibnya sama belum ada kejelasan ujung pangkalnya.

Demikian juga kasus kejahatan persekusi yang menimpa aktivis Fakhri Hamzah yang juga menjabat salah seorang Wakil Ketua DPR RI, Kasus Kejahatan persekusi yang menimpa aktivis dan ustazah Neno Warisman di Bandara kota Pekan Baru dan berbagai kasus persekusi dan ancaman kekerasan lainnya yang menimpa para aktivis dan tokoh yang dianggap berseberangan dengan Rezim Penguasa seolah dianggap tak perlu ditangani secara hukum. Sehingga para pelakunya bisa bebas tanpa ada tindakan dan proses hukum.

Sementara itu banyak oknum para pelaku yang nyata-nyata telah terindikasi dan patut diduga telah melakukan kejahatan apakah penghinaan/penistaan agama, ujaran kebencian seperti Viktor Liaskodat, Ade Armando, Abu Janda dan lain-lain semuanya seolah-olah tidak tersentuh hukum, dan menjadi merasa bebas melakukan perbuatan, padahal apa yang mereka lakukan jelas mengandung unsur kejahatan pidana.

Penutup

Bila dicermati proses penegakan hukum yang terjadi saat ini, memang sungguh sangat mengecewakan dan mengkhawatirkan. Hal ini sebenarnya sangat membahayakan terhadap eksistensi negara hukum yang kita bangun dan menjadi komitmen bagi kita semua.

Untuk itu hal yang paling penting saat ini adalah mengetuk kembali nurani Penguasa dan aparat penegak hukum agar kembali komit terhadap apa yang diamnahkan konstitusi dan para Pendiri Bangsa (Pounding Fathers) , sehingga praktek penegakan hukum dengan “Politik Belah Bambu” satu pihak diangkat (dilindungi) dan satu pihak lain dipijak (dizolimi) sudah saatnya diakhiri seiring dengan berakhirnya Tahun 2018 ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Modernisasi di Sana Dimulai Dengan Pajak Untuk Pria Yang Berjenggot

Para pria dianjurkan tidak berjenggot. Bagi yang bersikeras tetap berjenggot, mereka dikenakan pajak, sesuai dengan status sosial dan profesi.. Lama saya terdiam mengenang tokoh yang begitu terobsesi membaratkan negaranya: Peter the Great. Soal jenggotpun, ia atur.

GOLPUT: Halal Versus Haram, dan Gerakan Ayo Memilih

Di tahun 2019, kita mencatat ikhtiar gerakan anti Golput yang unik di Indonesia. Promotornya Jeune and Raccord Communication. Tiga anak muda memulai gerakan ini: Monica JR, Riries Puri, Arie Prijono.

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

Boneka Cantik dari Balaikota

Seperti drama korea (drakor), ada yang menangis ada yang tertawa. Akhirnya perburuan rekom PDIP untuk pilwali Surabaya mencapai antiklimaks, Rabu (2/9). And the winner is...Tri Rismaharini sebagai sutradara terbaik. Whisnu berusaha tatag, berdiri di depan kamera menghadap Megawati Soekarnoputri. "Aku tidak akan buang kamu, Whisnu," kata Mega.

Pria 57 Tahun di Bogor: Jari Kaki Terasa Kaku, Bekas Luka Menghitam dan Bersisik

Dok, jari-jari kaki saya terasa kaku, agak mati rasa kadang nyeri, terus kaki kanan di atas mata kaki awalnta gatal saya garuk luka, sekarang sembuh tapi kulitnya jadi bersisik dan menghitam. Ini indikasi apa ya dokter?

TERPOPULER