Berdiskusi secara santai, bebas pro dan kontra di Inggris, juga di peradaban barat umumnya, tentu buah yang panjang. Di abad pertengahan, Eropa justru tercatat sebagai wilayah paling berdarah untuk urusan opini soal agama. Beda pandangan dengan doktrin resmi gereja dapat membuat seseorang dibakar hidup-hidup.

Dalam sejarah Eropa dikenal istilah Death by burning. Hukum mati dengan cara pelaku di salip. Di bawah kakinya penuh tumpukan kayu untuk dibakar. Publik bahkan terbiasa menonton hukuman itu. Api dinyalakan. Sang pelaku menjerit terbakar hingga mati dan badannya hangus.

Jangankan menyatakan kitab suci itu hanya fiksi. Menyatakan sesuatu yang berbeda dengan keyakinan resmi gereja saja, yang komentarnya dianggap menyimpang, pelaku bisa dipanggang.

Sengaja pula hukuman mati dengan dibakar itu dipertontonkan untuk menimbulkan efek jera. Bahkan ada pula yang meyakini. Walau fisik pelaku menderita, namun jika ia menjerit penuh penyesalan, panasnya api itu akan menyelamatkan jiwanya.

Mengapa di Eropa tradisi hukuman bagi beda opini soal agama akhirnya dihapuskan? Terbukti pandangan resmi otoritas keagamaan bisa juga salah.

Dulu itu gereja meyakini bumi adalah pusat semesta. Galileo melalui teleskop membuktikan ucapan Copernicus bahwa bumi hanya planet biasa yang justru mengelilingi matahari. Gereja meminta Galileo mencabut teorinya dan ia dikenakan tahanan rumah.

Waktu membuktikan Galileo benar dan pihak gereja yang merupakan pemangku agama tertinggi bisa salah.

Dulu itu menyempal soal agama bisa berujung pada kematian. Menjadi katolik atau menjadi protestan dengan seluruh keyakinannya terancam musnahnya satu keluarga. Tahun 1522-1700, selama hampir dua ratus tahun, terjadi konflik besar soal agama yang disebut The European Wars of Religions atau The Wars of the Reformation.

Manusia menderita akibat tiada toleransi pada perbedaan. Peradaban rusak, hancur dan berdarah karena tak memberi ruang untuk berbeda pandangan secara damai.

Ratusan tahun kemudian, Eropa berubah. Sebuah opini yang dulu kala bisa membuat pelaku dibakar mati, kini dapat dinyatakan dengan senyum dan santai saja dalam acara live show televisi. Toh semua hanya opini. Tak ada paksaan kepada siapapun untuk meyakini opini itu.

1 KOMENTAR

  1. Kalau yg sy pahami,

    Fiksi = cerita yg bisa atau pasti terjadi di masa depan
    Fiktif = cerita bohong atau tidak terbukti
    Itu dari sudut *benar salahnya* cerita/berita

    Kalau dari sudut *penulis* ceritanya,
    Kalau penulisnya manusia,
    maka Fiksi *bisa benar-benar terjadi* & menjadi fact = realitas
    Kalau tidak terjadi maka Fiksi menjadi Fiktif = bohong

    Kalau penulisnya Tuhan, maka *pasti terjadi* (pada waktunya) & tidak akan menjadi Fiktif

    Contoh saja,
    Tuhan menulis bahwa dunia nanti akan kiamat, gunung berhamburan dll.

    Apakah sekarang gunung berhamburan dll adalah fact atau Fiktif ?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama