Jangan Mau Punya Suami Shalehah

By: Ustadz Ahsanul Fuad, S.H, M.A,

2
358

Alhamdulillah, abang baru saja selesai mengikuti kegiatan shalat shubuh berjemaah di Mesjid Rabithatul Muslimin Jalan Yos Sudarso Medan. Banyak jemaah yang hadir.

Dalam kuliah shubuh tadi abang menyoroti beberapa hal, antara lain :

Pertama, tidak boleh ada ketakutan apapun yang layak dibiarkan singgah di dalam hati kita selain ketakutan mengingat umur. Umur kita dari detik ke detik terus tergerus. Tapi apakah kita (juga) dari waktu ke waktu mengurus dan bergegas untuk meraih keampunanNya ?

Ibarat permainan bola dimasa injury time, betapa menyesalnya si pemain yang tidak mampu memanfaatkan masa itu hingga akhirnya kalah dalam pertandingan.

Di sisi lain, ada dua jalan di depan yang membentang dan menghadang setelah masa injury time itu habis. Apakah surga yang membentang ataukah neraka yang menghadang. Tidakkah sepatutnya ini yang lebih pantas kita takutkan mengingat kita tidak tahu jalan mana yang akan kita lalui?

Kedua, kemenangan tidak akan pernah kita raih kalau di dada masing-masing kita masih terselip dan tersimpan sifat munafik. Allah tidak akan menjadi pembela kepada hamba-hambaNya yang munafik. Nabi saw mengingatkan bahwa indikator seseorang menyimpan sifat munafik ditandai dari keengganannya untuk menemui shalat subuh berjemaah ke mesjid (utamanya shalat ‘Isya’ dan Shubuh).

Walhasil kita bisa mengatakan, bahwa gerakan sholat subuh berjamaah ke mesjid adalah menjadi bagian dari cara kita menjemput pertolongan Allah.

Ketiga, bahwa sebaik-baik shalat bagi kaum perempuan adalah shalat di rumah. Namun tidak halnya bagi kaum laki-laki. Tidak ada shalat bagi seorang laki-laki tanpa ‘uzur melainkan dia harus menemui shalat berjamaah ke mesjid.

“Jadi ibu-ibu” kata abang bertanya kepada kaum ibu-ibu yang hadir “ibu mau punya suami shaleh atau suami shalehah?”

“Suami shaleeeh” terdengar jawaban ibu-ibu seperti dikomando.

“Kalau begitu, jangan biarkan suami ibu jadi suami shalehah. Suami shalehah itu adalah suami yang shalatnya di rumah seperti ibu-ibu” grrrrrrr…terdengar suara ibu-ibu tertawa.

Pada bagian ini abang menyampaikan riwayat hadis nabi saw dimana beliau menyampaikan keutamaan shalat shubuh berjemaah ke mesjid dan sampai-sampai nabi saw bersabda :

“…andai saja ummatku tahu maka dengan cara merangkakpun mereka akan mengupayakan untuk datang shalat jemaah ke mesjid”

“Bapak-bapak, ibu-ibu, yakin tidak dengan kebenaran “informasi” hadits ini ?” tanya abang ke hadirin.

“Yakiiiin” jawab mereka serempak.

“Yakin itu ada 3 bentuknya”

“Ada yang disebut ‘ilmul yaqiin. Orang bisa sangat mantap mengatakan bahwa Ibukota Indonesia itu adalah Jakarta. Mengapa dia bisa begitu mantap mengatakan bahwa Ibukota Indonesia adalah Jakarta ? Jawabnya karena dia punya ilmu sehingga membuat dia mantap mengatakan Indonesia ibukotanya Jakarta”.

“Tapi level keyakinannya tidak jauh lebih tinggi dibanding dengan orang yang pernah langsung melihat Jakarta. Dia pernah melihat Monas, melihat jembatan Semanggi. Inilah yang disebut dengan ‘ainul yaqiin”

“Namun ‘Ilmul yaqiin, ‘ainul yaqiin, levelnya masih di bawah dari haqqul yaqiin. Orang yang hidup tinggal di Jakarta adalah orang-orang yang mampu merasakan Jakarta : macetnya, pagi-pagi buta sudah harus berlomba-lomba mengejar bus untuk pergi ke kantor, dan cuma orang Jakarta (di masa A Hok jadi Gubernur) yang bisa merasakan kalau Jakarta sudah tidak lagi banjir -tapi cuma genangan air sedalam 1 meter” hahahaha…terdengar suara jemaah tertawa.

“Itulah yang disebut dengan haqqul yaqiin -keyakinan dan kemampuan seseorang untuk bisa merasakan”

“Nah sekarang saya tanyakan kembali, yakinkah bapak-bapak dengan apa yang disampaikan nabi saw tadi (soal keutamaan shalat shubuh berjemaah)?”

“Yakiiiin” jawabannya masih sama dengan jawaban sebelumnya.

“Jawaban bapak-bapak akan terkonfirmasi dari jumlah shaf shalat shubuh di mesjid ini di level keyakinan mana yang bapak-bapak pilih” pungkas abang mengajak berpikir.

Keempat, kemenangan itu ada kaedahnya. Kemenangan itu adalah kepastian.

“Mari ikuti bacaan saya” :

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS.al-Isra’ :81)

Ini janji Allah, yang disebut dengan aksiomatika ilahiah. Aksiomatika itu adalah kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi.

Matahari terbit dari sebelah timur. Dan dia akan terbenam di sebelah barat. Kita tidak perlu berdiskusi dan berdebat apakah memang matahari terbit dari sebelah timur dan terbenam di sebelah barat. Begitu juga halnya dengan kebatilan. Kita tidak perlu ragu bahwa kebatilan itu akan punah.

Oleh karena itu kita tidak perlu khawatir, takut, dengan kezaliman yang dilakukan oleh rezim pemerintahan saat ini (sambil menyebut contoh-contoh diantaranya). Semakin dia zhalim maka semakin cepat pula dia akan punah. Ini sikap optimistik yang harus terus kita pelihara dalam perjuangan ini.

Kelima, tugas kita adalah menyediakan semua prasarat yang diperlukan agar pertolongan Allah akan segera datang. Tidak ada pertolongan lain yang bisa kita tumpukan kecuali hanya pertolongan Dia. Kita tidak bisa meminta pertolongan kepada DPR, kepada Gubernur, Walikota, apalagi kepada Partai Politik karena mereka pun tersandera dengan kepentingannya masing-masing.

Tak ada hal lain, kecuali kita harus terus berucap dan memupuk ucapan : anta maulaana fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin”

____________________

* Disampaikan dalam Kuliah Shubuh Berjemaah di Medan Pagi Ini, Minggu (2/4).

Penulis : Ustadz Ahsanul Fuad, S.H, M.A adalah Ketua Dewan Syariah SERUJI, Ketua gerakan Gotong Royong Muslim Kuasai Medan (GMKM), Pengurus KAHMI Medan.

EDITOR: Iwan Setiadi

BAGIKAN
loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama