Stop Riba Sekarang Juga !

|

Persekolahan mengubah pendidikan sebagai kesempatan belajar yang melimpah (abundant) menjadi komoditi langka (scarce). Bahkan saat ini bersekolah telah menjadi simbol status sosial tertentu dengan segmentasi pasar yang makin terkasta.

Secara perlahan masyarakat merancukan antara belajar dan bersekolah, kompetensi dan ijazah, kebutuhan dan keinginan, komunikasi dan smart phone, konektiviti dan jalan tol, mobilitas dan mobil, kebahagiaan dan harta, isi dan bungkusnya.

Pada saat masyarakat gagal membedakan antara keinginan yang tak-terbatas dan kebutuhan yang terbatas, maka masyarakat (dan Pemerintah) masuk dalam jebakan utang. Inilah yang terjadi sekarang.

Ketergantungan dan kecanduan masyarakat saat ini pada utang setara dengan ketergantungan dan kecanduannya pada sekolah. Seperti kalau tidak punya mobil (diperoleh melalui leasing) dianggap bukan klas menengah, maka tidak sekolah langsung dianggap kampungan dan tidak terdidik. Padahal untuk belajar kita tidak harus bersekolah, juga untuk memiliki mobilitas kita tidak harus punya mobil.

Jadi, jangan mudah menyangka kalau makin banyak dan makin lama bersekolah (mungkin makin panjang gelar) maka kita akan makin terdidik. Malah sebaliknya yang terjadi: makin banyak mobil di kota-kota kita, maka kita justru menyaksikan kemacetan di mana-mana. Kita makin lama bersekolah tapi makin tidak terdidik.

Jadi kita harus waspada: jika makin banyak benda-benda yang kita miliki, jangan-jangan kita makin tenggelam dalam utang dan makin sulit bahagia. Memang utang adalah instrumen untuk memiskinkan dan merampas kemerdekaan kita. Muhammad Rasulullah mengatakan bahwa utang akan membuat kegelisahan di malam hari dan kehinaan di siang hari.

Kita harus hentikan utang ribawi ini sekarang juga agar kita bisa merdeka lagi…. Kali ini sungguh-sungguh merdeka.

Gunung Anyar, 1/9/2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Daniel Mohammad Rosyid
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.
Guru Besar ITS Surabaya, Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik.

TERPOPULER

Penggratisan Suramadu: Memperdalam Kekeliruan Kebijakan Pemerintah

"Kebijakan ini dibangun di atas paradigma benua, bertentangan dengan paradigma kepulauan. Dalam paradigma benua, kapal bukan infrastruktur, tapi jalan dan jembatan. Kapal disamakan dengan truk dan bis," Prof Danie Rosyid.

Stop Riba Sekarang Juga !

Deschooling dan Krisis Kepemimpinan

aksi bela islam, 212

Soal Islam Nusantara